KabarDermayu.com – Menteri Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Maman Abdurrahman melaporkan bahwa sebanyak 57.600 UMKM telah berhasil dilibatkan sebagai pemasok dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) hingga saat ini.
Menurut Maman, partisipasi UMKM ini menjadi indikator bahwa program MBG tidak hanya berkontribusi pada peningkatan gizi, tetapi juga secara signifikan mendorong pertumbuhan ekonomi lokal. Ekosistem MBG sendiri melibatkan ribuan entitas lain, termasuk sekitar 12 ribu koperasi, 1.358 Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), dan kurang lebih 64 ribu pemasok lainnya.
Lebih lanjut, tercatat pula partisipasi 662 Koperasi Desa Merah Putih yang turut memperkuat rantai pasok dalam program ini. Keterlibatan ini menunjukkan cakupan yang luas dari berbagai jenis usaha yang mendukung kelancaran program MBG.
Maman merinci bahwa para pemasok yang terlibat dalam program MBG sangat beragam. Mereka menyediakan berbagai macam kebutuhan, mulai dari bahan baku kering seperti minyak goreng, tepung, dan kecap, hingga bahan segar seperti beras, telur, ayam, tempe, tahu, sayur, dan buah-buahan.
Baca juga: Netanyahu Klaim Berhasil Gagalkan Misi Kapal Bantuan Internasional
Selain itu, para pemasok juga menyediakan kebutuhan operasional esensial untuk dapur MBG, termasuk sabun cuci, air bersih, dan gas. Keberagaman pasokan ini memastikan bahwa seluruh aspek operasional dapur dapat berjalan dengan baik.
Menanggapi adanya kritik mengenai peran pelaku usaha dalam pembangunan dapur MBG, Maman memberikan klarifikasi. Ia menjelaskan bahwa pemilik dapur atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) umumnya berasal dari kalangan pengusaha menengah.
Hal ini dikarenakan kebutuhan modal yang besar untuk pembangunan dan operasional dapur, yang dinilai belum dapat dipenuhi oleh usaha mikro atau kecil. Oleh karena itu, fokus keterlibatan usaha mikro dan kecil lebih diarahkan pada rantai pasok.
“Saya selalu sampaikan, kenapa yang membangun dapur rata-rata pengusaha menengah, karena memang secara kemampuan finansial tidak mungkin diserahkan kepada usaha mikro atau usaha kecil,” ujar Maman di Jakarta, Selasa, 19 Mei 2026.
Maman menekankan pentingnya memastikan bahwa kesempatan bagi UMKM untuk terlibat dalam rantai pasok program MBG benar-benar terbuka lebar dan terus dipantau secara berkala.
Menurutnya, poin krusial yang patut menjadi sorotan adalah sejauh mana UMKM dilibatkan dalam rantai pasok dapur umum yang menjadi bagian dari program MBG.
“Yang justru harus disoroti adalah apakah keterlibatan usaha mikro dan kecil dalam rantai pasok itu sudah dibuka seluas-luasnya,” tegasnya.
Meskipun demikian, Maman mengakui bahwa pelaksanaan program MBG masih menghadapi beberapa tantangan dan memiliki catatan perbaikan yang perlu ditindaklanjuti. Namun, ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk melihat program ini dari perspektif yang lebih luas.
Penting untuk tidak hanya berfokus pada kekurangan yang ada, tetapi juga mengapresiasi potensi manfaat ekonomi yang ditawarkan oleh program MBG. Program ini diperkirakan mampu menciptakan sebuah ekosistem ekonomi baru yang dinamis.
Perputaran dana yang dihasilkan dari program MBG diproyeksikan akan mencapai angka fantastis sebesar Rp300 triliun pada tahun ini, memberikan dampak positif yang signifikan bagi perekonomian.





