Biaya Perang AS-Iran Mencapai Rp507 Triliun, Hegseth Dihujani Pertanyaan

oleh -5 Dilihat
Biaya Perang AS-Iran Mencapai Rp507 Triliun, Hegseth Dihujani Pertanyaan

KabarDermayu.com – Biaya perang yang dikeluarkan Amerika Serikat untuk melawan Iran dilaporkan melonjak drastis. Anggaran tersebut kini mencapai hampir 29 miliar dolar AS, atau setara dengan Rp507,5 triliun.

Informasi ini diungkapkan oleh Pentagon dalam sebuah sidang anggaran di Capitol Hill pada Selasa waktu setempat. Angka ini menunjukkan peningkatan sekitar 4 miliar dolar AS, atau lebih dari Rp70 triliun, dibandingkan perkiraan sebelumnya yang disampaikan oleh departemen pertahanan AS dua pekan lalu.

Menurut laporan dari laman NDTV pada Rabu, 13 Mei 2026, pernyataan mengenai pembengkakan biaya ini langsung memicu serangkaian pertanyaan dari anggota kongres kepada Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth, Ketua Kepala Staf Gabungan Dan Caine, dan kepala keuangan Pentagon Jules Hurst III.

Mereka diminta memberikan keterangan terkait permintaan anggaran pertahanan tahun 2027 yang mencapai 1,5 triliun dolar AS, atau setara Rp26,25 kuadriliun.

“Pada saat kesaksian sebelumnya, nilainya 25 miliar dolar (Rp 437,5 triliun). Namun, tim staf gabungan dan tim pengawas keuangan terus meninjau estimasi itu, dan sekarang kami memperkirakan angkanya mendekati 29 miliar dolar,” ujar Hurst.

Ia menjelaskan bahwa pembaruan estimasi tersebut mencakup biaya perbaikan dan penggantian peralatan, serta biaya operasional yang lebih luas.

Partai Demokrat dan sejumlah kritikus perang lainnya mempertanyakan perhitungan yang disampaikan Pentagon. Mereka menduga bahwa biaya sebenarnya, termasuk kerugian akibat serangan Iran, bisa jadi jauh lebih besar dari angka yang dipublikasikan.

Ketika didesak mengenai kapan Kongres akan menerima rincian yang lebih lengkap, Hegseth menyatakan bahwa pemerintah akan mengajukan permintaan tambahan secara terpisah dari anggaran Pentagon jika memang diperlukan. Namun, ia tidak memberikan jadwal pasti mengenai hal tersebut.

Kesaksian ini muncul di tengah situasi gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran yang dinilai semakin rapuh. Presiden Trump sebelumnya telah memperingatkan bahwa gencatan senjata tersebut berada dalam kondisi yang tidak pasti, setelah menolak proposal perdamaian terbaru dari Teheran.

Partai Demokrat memanfaatkan momentum sidang anggaran ini untuk melancarkan kritik terhadap pemerintah terkait membengkaknya biaya perang. Mereka juga menyoroti apa yang mereka sebut sebagai kurangnya transparansi mengenai tujuan Amerika Serikat dalam konflik tersebut.

“Pertanyaan yang harus dijawab pada akhirnya adalah apa yang sudah kita capai dan berapa biaya yang harus dibayar?” ujar anggota senior Partai Demokrat di Komite Anggaran DPR AS, Rosa DeLauro.

Sidang anggaran ini menjadi penampilan perdana Hegseth di Capitol Hill sejak Gedung Putih secara resmi memberitahukan kepada Kongres bahwa permusuhan yang dimulai oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari telah berakhir.

Partai Demokrat menuduh pemerintahan Trump melancarkan perang tanpa persetujuan dari Kongres. Mereka berulang kali berupaya membatasi kewenangan perang presiden, meskipun upaya tersebut selalu digagalkan oleh Partai Republik.

Senator Demokrat Mark Kelly pada akhir pekan sebelumnya telah memperingatkan bahwa stok rudal Tomahawk, pencegat Patriot, dan senjata canggih lainnya telah terkuras secara parah. Ia menambahkan bahwa dibutuhkan waktu bertahun-tahun untuk memulihkan persediaan tersebut.

Namun, Hegseth menepis kekhawatiran tersebut. Ia menyebut peringatan itu terlalu dibesar-besarkan dan tidak membantu.

Hegseth dan Caine juga menghadapi sesi pertanyaan kedua di hadapan panel Senat setelah sidang di DPR. Aksi protes anti-perang juga dilaporkan terjadi di kedua sidang tersebut.

Di Senat, Senator Demokrat Patty Murray menyatakan bahwa estimasi biaya dari pemerintah terlihat terlalu rendah. Ia menduga angka tersebut tidak memasukkan kerugian pada fasilitas Amerika Serikat, merujuk pada laporan yang menyebut Iran telah menyerang sedikitnya 228 bangunan atau peralatan di lokasi militer AS.

Analis kebijakan pertahanan senior dari Project On Government Oversight, Virginia Burger, berpendapat bahwa pemerintah kemungkinan meremehkan biaya sebenarnya hingga puluhan miliar dolar.

“Satu-satunya cara mengetahui selisih dan biaya sebenarnya yang ditanggung pembayar pajak dari perang ini adalah jika Pentagon memberikan rincian biaya secara detail kepada Kongres. Tanpa melihat angkanya, kita hanya bisa bertanya-tanya apakah Pentagon memainkan trik matematika dan memilih-milih data agar estimasi resmi terlihat serendah mungkin,” ujarnya.

Hegseth menolak memberikan estimasi mengenai kerusakan yang terjadi. Namun, ia kembali mengulang argumen yang sering disampaikannya sejak perang dimulai, yaitu bahwa biaya yang harus dibayar jika Iran berhasil memiliki senjata nuklir akan jauh lebih besar.

Baca juga: Jadwal MotoGP Catalunya 2026: Duel Sengit Pembalap, Ada Absensi Kejutan

Trump sendiri berulang kali mengklaim bahwa serangan udara AS telah menghancurkan total program nuklir Iran pada tahun lalu. Meskipun demikian, penilaian intelijen menunjukkan bahwa Teheran masih membutuhkan waktu sekitar satu dekade untuk dapat mengembangkan rudal yang mampu mengancam wilayah Amerika Serikat.