Danantara: 33 Proyek Pembangkit Sampah, Serap 130 Ribu Pekerja Lokal

oleh -1 Dilihat
Danantara: 33 Proyek Pembangkit Sampah, Serap 130 Ribu Pekerja Lokal

KabarDermayu.com – PT Daya Energi Bersih Nusantara (Denera), sebuah entitas di bawah naungan Danantara Indonesia, menegaskan komitmennya untuk memprioritaskan tenaga kerja lokal dalam pelaksanaan 33 proyek pengolahan sampah menjadi energi (waste-to-energy/WtE) di berbagai wilayah Indonesia.

Langkah strategis ini sejalan dengan rencana ekspansi perusahaan yang akan membangun fasilitas WtE di banyak daerah. Proyek-proyek ini diperkirakan akan membuka peluang kerja signifikan, dengan proyeksi penyerapan hingga 130 ribu pekerja, mulai dari fase konstruksi hingga operasional jangka panjang.

Chief Executive Officer Denera, Fadli Rahman, menekankan bahwa keterlibatan masyarakat setempat merupakan pilar utama dalam setiap proyek yang dijalankan. Perusahaan tidak hanya berfokus pada pembangunan infrastruktur pengelolaan sampah modern, tetapi juga berupaya memberikan dampak ekonomi positif yang nyata bagi komunitas di sekitar lokasi proyek.

“Kami berkomitmen untuk membangun kolaborasi yang kuat dengan pemerintah daerah dan seluruh pemangku kepentingan. Salah satu fokus utama kami adalah memastikan penyerapan tenaga kerja lokal secara maksimal,” ujar Fadli Rahman dalam keterangan resmi yang dirilis di Jakarta pada Sabtu, 4 Juli 2026.

Setiap fasilitas pengolahan sampah menjadi energi yang dibangun Denera diprediksi akan membutuhkan tenaga kerja yang cukup besar, diperkirakan antara 500 hingga 1.000 orang selama masa konstruksi. Dengan rencana pengembangan 33 fasilitas di berbagai penjuru nusantara, total kebutuhan tenaga kerja yang terproyeksi mencapai 130 ribu orang.

Proyek ambisius ini tidak hanya bertujuan untuk memperkuat sistem pengelolaan sampah nasional, tetapi juga diharapkan menjadi motor penggerak penciptaan lapangan kerja baru yang substansial bagi masyarakat di berbagai daerah.

Fadli Rahman menggarisbawahi bahwa isu sampah telah bertransformasi menjadi tantangan sosial yang kompleks dan bersifat lintas generasi. Kualitas hidup masyarakat di masa depan sangat bergantung pada bagaimana persoalan sampah ini ditangani secara efektif.

Oleh karena itu, ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk turut serta mendukung upaya pengelolaan sampah. Dukungan ini bisa diwujudkan melalui tindakan sederhana sehari-hari hingga partisipasi dalam penerapan teknologi pengolahan sampah yang lebih maju. Dukungan dari masyarakat sangat krusial, mulai dari tahapan pengelolaan di tingkat hulu hingga hilir, termasuk membudayakan pemilahan sampah di sumbernya.

“Mari kita bersama-sama mendukung setiap inisiatif yang menawarkan solusi berkelanjutan untuk permasalahan sampah di Indonesia,” ajaknya.

Secara terpisah, Jalal, yang dikenal sebagai pendiri Social Investment Indonesia dan seorang sustainability provocateur, menambahkan pandangannya. Ia berpendapat bahwa pembangunan fasilitas waste-to-energy harus berjalan seiring dengan penguatan budaya memilah sampah di berbagai tingkatan, mulai dari rumah tangga, sektor komersial, hingga industri.

Menurut Jalal, tantangan terbesar dalam pengelolaan sampah di Indonesia tidak semata-mata terletak pada kecanggihan teknologi yang digunakan. Karakteristik sampah di Indonesia yang mayoritas adalah sampah organik dengan kandungan air tinggi juga menjadi faktor penting yang perlu diperhatikan.

Proses pemilahan sampah sejak dini dinilai sebagai tahapan fundamental sebelum sampah tersebut dapat diolah menjadi sumber energi. Jalal juga menekankan pentingnya melibatkan masyarakat yang terdampak langsung oleh proyek waste-to-energy sebagai bagian integral dari setiap inisiatif.

Ia menegaskan bahwa partisipasi masyarakat perlu diakomodir sejak tahap awal perencanaan proyek. Selain itu, masyarakat berhak mendapatkan akses informasi yang transparan mengenai emisi yang dihasilkan oleh fasilitas, serta merasakan manfaat nyata dari pembangunan proyek tersebut.

Pendekatan partisipatif ini, menurut Jalal, sangat vital agar proyek waste-to-energy dapat memperoleh dukungan publik yang kuat. Hal ini juga akan memastikan proyek memberikan manfaat ekologis, ekonomi, dan sosial yang berkelanjutan.

“Tanpa adanya legitimasi sosial yang kokoh, proyek waste-to-energy berisiko kehilangan fondasi utamanya untuk keberlanjutan,” tegas Jalal.

Rencana pembangunan 33 fasilitas waste-to-energy oleh Denera merupakan langkah signifikan dalam memperkuat sistem pengelolaan sampah nasional. Inisiatif ini sekaligus mendorong transisi menuju pemanfaatan energi yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan. Selain fokus pada pengurangan volume sampah, proyek ini juga diharapkan mampu menciptakan ekosistem kerja baru melalui optimalisasi penyerapan tenaga kerja lokal di setiap daerah tempat fasilitas tersebut dibangun.