KabarDermayu.com – Partai Gerindra memberikan tanggapan tegas terhadap kritik yang dilayangkan oleh mantan Wakil Menteri Luar Negeri, Dino Patti Djalal, mengenai frekuensi kunjungan ke luar negeri yang dilakukan oleh Presiden Prabowo Subianto.
Juru Bicara Partai Gerindra, Bahtra Banong, secara spesifik menyatakan bahwa kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke Prancis bukanlah sebuah perjalanan pribadi.
“Presiden membawa misi negara, bukan melakukan perjalanan pribadi,” tegas Bahtra saat dihubungi tvOnenews pada Senin, 1 Juni 2026.
Bahtra menjelaskan lebih lanjut bahwa setiap agenda kunjungan presiden ke luar negeri selalu melibatkan delegasi yang terdiri dari berbagai kementerian, lembaga, Badan Usaha Milik Negara (BUMN), serta perwakilan dari dunia usaha.
Agenda yang dibawa dalam kunjungan tersebut mencakup berbagai sektor strategis. Di antaranya adalah investasi, perdagangan, energi, pertahanan, teknologi, dan kerja sama strategis lainnya yang kesemuanya dirancang untuk kepentingan nasional.
Di sisi lain, Bahtra menekankan pentingnya diplomasi yang dilakukan secara tatap muka, terutama ketika menyangkut kepentingan ekonomi suatu negara.
“Dalam banyak kasus, kehadiran Presiden menjadi faktor penting dalam meningkatkan kepercayaan investor dan mempercepat lahirnya kesepakatan strategis,” ujarnya.
Bahtra, yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Komisi II DPR, menambahkan bahwa para investor global tidak hanya sekadar melihat proposal bisnis yang diajukan.
Baca juga: Como 1907: Mirwan Suwarso Ungkap Rahasia Kebangkitan Serie A dari Serie D
Mereka juga sangat memperhatikan komitmen dan keseriusan dari pemimpin negara yang menawarkan kerja sama tersebut.
“Sebagaimana dalam dunia bisnis, untuk negosiasi yang sangat strategis, kehadiran pimpinan perusahaan dibutuhkan untuk kelancaran negosiasi,” jelas Bahtra, mengibaratkan dengan dinamika dalam dunia bisnis.
Lebih lanjut, Bahtra memaparkan bahwa kunjungan Presiden Prabowo ke Prancis yang dilaksanakan pada bulan Mei 2026 lalu telah membuahkan hasil yang nyata dan konkret bagi Indonesia.
“Kunjungan Presiden Prabowo ke Prancis baru-baru ini menghasilkan sejumlah kesepakatan komersial senilai sekitar USD 3,5 miliar atau setara Rp 61 triliun lebih, mencakup sektor energi, perdagangan, dan pertahanan,” ungkapnya.
Selain kesepakatan komersial tersebut, Bahtra juga menyebutkan bahwa forum bisnis tingkat tinggi telah berhasil dibentuk.
Forum ini bertujuan untuk mempertemukan para pelaku usaha dari kedua negara, Indonesia dan Prancis, guna mendorong lebih lanjut investasi serta kerja sama jangka panjang.
“Selain itu, terbentuk forum bisnis tingkat tinggi yang mempertemukan pelaku usaha kedua negara untuk mendorong investasi dan kerja sama jangka panjang,” pungkas Bahtra.





