Kadin Dorong Standar Berkelanjutan Hilirisasi Nikel Penuhi Pasar Global

oleh -5 Dilihat
Kadin Dorong Standar Berkelanjutan Hilirisasi Nikel Penuhi Pasar Global

KabarDermayu.com – Indonesia berupaya keras memastikan bahwa keberhasilan hilirisasi nikel tidak hanya diukur dari kapasitas produksi dan nilai investasi, tetapi juga dari kemampuannya memenuhi standar keberlanjutan. Standar ini semakin menjadi prasyarat utama untuk dapat mengakses pasar global.

Fokus utama ini menjadi perhatian dalam diskusi bertajuk “Responsible Downstreaming at Scale: North Maluku Sustainable Experience”. Diskusi ini diselenggarakan oleh Kadin Komite Bilateral UK dan Irlandia sebagai bagian dari Indonesia Critical Minerals Conference 2026.

Acara ini mempertemukan perwakilan pemerintah daerah, pelaku industri, organisasi internasional, dan para pemangku kepentingan sektor mineral kritis. Tujuannya adalah untuk membahas bagaimana Maluku Utara dapat menjadi referensi global dalam praktik hilirisasi yang bertanggung jawab. Hal ini penting mengingat meningkatnya permintaan mineral kritis yang mendukung transisi energi dunia.

Diskusi tersebut merupakan rangkaian dari North Maluku Sustainability Trip yang dilaksanakan di Indonesia Weda-bay Industrial Park (IWIP) pada 1-2 Juni lalu. Ketua ESDM Kadin Komite Bilateral UK dan Irlandia, Ovan Tito, turut memaparkan hasil kunjungan ke IWIP, Maluku Utara.

Kunjungan ini bertujuan untuk melihat secara langsung perkembangan ekosistem hilirisasi nikel di Maluku Utara. Selain itu, juga untuk mengamati upaya yang dilakukan agar kawasan tersebut dapat menjadi referensi global untuk praktik responsible downstreaming.

“Banyak peserta datang dengan berbagai perspektif dan ekspektasi mengenai industri nikel Indonesia. Namun setelah melihat langsung operasional di lapangan, investasi lingkungan yang dilakukan, serta keterbukaan berbagai pihak dalam berdialog, kami melihat sebuah ekosistem industri yang beroperasi pada skala kelas dunia dan terus berupaya meningkatkan standar keberlanjutannya,” ujar Ovan Tito dalam keterangannya pada Kamis, 4 Juni 2026.

Dampak hilirisasi nikel terlihat jelas dari kontribusinya yang besar terhadap perekonomian nasional. Nilai ekspor produk turunan nikel mengalami peningkatan signifikan, hampir sepuluh kali lipat. Dari US$3,3 miliar pada 2018, nilainya melonjak menjadi sekitar US$34 miliar pada 2024.

Peningkatan ini mencerminkan nilai tambah yang semakin besar tercipta di dalam negeri. Dengan kontribusi sekitar 13-15% terhadap pasokan nikel dunia, Maluku Utara kini memegang posisi strategis dalam rantai pasok mineral kritis global.

Pada kuartal pertama 2026, ekonomi Maluku Utara mencatatkan pertumbuhan sebesar 19,64%. Angka ini menjadi yang tertinggi di Indonesia, didorong oleh aktivitas pengolahan dan pertambangan yang terus berkembang pesat.

Komoditas berbasis besi baja, nikel, dan bahan kimia anorganik bahkan menyumbang porsi besar, yaitu 96,65% dari total ekspor daerah. Hal ini menunjukkan peran sentral hilirisasi dalam struktur ekonomi Maluku Utara saat ini.

Gubernur Maluku Utara, Sherly Tjoanda, menekankan bahwa keberhasilan hilirisasi tidak bisa hanya diukur dari pertumbuhan ekonomi dan investasi yang masuk. Menurutnya, tantangan berikutnya adalah memastikan masyarakat lokal dapat berperan lebih besar dalam rantai nilai industri.

Hal ini mencakup peran sebagai tenaga kerja terampil, pelaku usaha, maupun pemasok yang mendukung aktivitas industri di daerah. “Karena itu kami sedang memperkuat pendidikan dan keterampilan masyarakat agar lebih banyak warga Maluku Utara dapat mengambil peran yang lebih besar dalam industri,” ucap Sherly.

Pemerintah daerah juga terus mendorong pengembangan pendidikan vokasi dan politeknik yang relevan dengan kebutuhan sektor industri. Tujuannya adalah agar semakin banyak masyarakat lokal yang dapat mengisi posisi-posisi strategis di masa depan.

Sherly Tjoanda menargetkan hingga 2030, Maluku Utara tidak hanya membangun kawasan industri yang lebih besar. Ia juga ingin memastikan masyarakatnya memiliki akses yang lebih baik terhadap pendidikan, layanan kesehatan, infrastruktur, dan kesempatan ekonomi.

Ambisi ini sejalan dengan peningkatan peran Maluku Utara dalam rantai pasok mineral kritis dunia. Posisi strategis ini membuat praktik hilirisasi di Indonesia semakin mendapat sorotan dari pasar global, terutama terkait aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG).

Executive Director NiPERA, Chris Schlekat, menilai pasar global akan semakin menuntut bukti atas praktik berkelanjutan yang diterapkan oleh produsen nikel. Penggunaan standar internasional yang kredibel menjadi sangat penting untuk membangun kepercayaan dan menjaga daya saing industri Indonesia.

“Ke depan, akses pasar global akan semakin ditentukan oleh kemampuan produsen untuk menunjukkan praktik lingkungan, sosial, dan tata kelola yang dapat diverifikasi. Karena itu, penting bagi industri untuk mengacu pada standar yang kredibel, relevan, dan berbasis sains agar klaim mengenai praktik-praktik tersebut dapat diukur secara objektif,” tutur Chris.

Sementara itu, Co-head of Responsible Sourcing Glencore, Ilse Schoeters, menyoroti salah satu perbedaan utama antara Indonesia dan negara dengan pertambangan yang lebih matang. Perbedaan tersebut terletak pada usia industri dan penerapan ESG yang sudah lebih lama di negara lain.

“Industri nikel Indonesia berkembang dalam kecepatan yang luar biasa. Dalam waktu kurang dari satu dekade, kawasan industri dan rantai nilai yang kompleks telah tumbuh dengan sangat cepat,” ujarnya.

Ilse menambahkan bahwa ada perusahaan di Indonesia yang sudah menunjukkan kemajuan dalam mengintegrasikan ESG ke dalam operasionalnya. Namun, beberapa perusahaan lain masih dalam proses membangun sistem yang diperlukan untuk memenuhi standar tersebut.