KabarDermayu.com – Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, memberikan jaminan kepada para pedagang yang terdampak penertiban di Rest Area Seger Alam, Puncak Pass, Cipanas, Kabupaten Cianjur. Ia memastikan adanya skema kompensasi yang disiapkan, termasuk bantuan modal usaha hingga Rp10 juta.
Selain bantuan modal, para pedagang juga akan diberikan peluang kerja baru di sektor formal. Hal ini diharapkan dapat membantu mereka kembali memulihkan roda perekonomian pasca-penertiban.
Sebagai langkah awal, Pemerintah Provinsi Jawa Barat akan menyalurkan bantuan modal usaha dan biaya hidup. Tujuannya agar para pedagang dapat segera menjalankan kembali aktivitas ekonomi mereka.
“Tahap pertama kita hari ini kan selesaikan dulu aja memberikan kompensasi untuk mereka untuk biaya hidup. Dan untuk modal usaha baru,” ujar Dedi di Gedung Pakuan, Bandung, pada Kamis.
Dedi Mulyadi menilai bahwa stimulus permodalan sebesar Rp10 juta sudah sangat memadai. Ia percaya, jika dikelola dengan manajemen yang tepat, modal tersebut dapat berkembang menjadi usaha yang lebih besar.
“Jadi kalau ngomong Rp10 juta, kecil. Bagi mereka yang pintar usaha, itu bisa berkembang menjadi besar,” tegas Dedi, yang akrab disapa KDM.
Lebih lanjut, Pemprov Jabar juga merancang solusi jangka panjang untuk memastikan para warga terdampak memiliki sumber penghasilan yang tetap.
Salah satu opsi konkret yang ditawarkan adalah penyerapan tenaga kerja di bidang kebersihan jalan. Sektor ini dinilai masih memiliki kebutuhan yang tinggi di berbagai ruas jalan strategis di Jawa Barat.
“Kita yang jelas, kita memerlukan tenaga kerja kebersihan, jalan. Karena di ruas jalan itu diperlukan dan nanti yang bersedia bisa menjadi tenaga kerja kebersihan jalan,” jelasnya.
Untuk memastikan efektivitas program ini, Pemprov Jabar akan melakukan pemetaan berkala. Pemetaan ini akan mencakup kondisi dan profil para pedagang agar sesuai dengan lowongan kerja yang tersedia.
Khusus bagi para pedagang atau anggota keluarga mereka yang berusia produktif di bawah 30 tahun, Dedi menyebut telah menyiapkan program pelatihan intensif. Program ini bertujuan untuk menjembatani mereka ke industri manufaktur.
“Nanti kita juga banyak ruang-ruang pekerjaan yang bisa kita latih. Kita arahkan kalau usianya di bawah 30, sektor garmen masih terbuka. Nanti kita bisa latih mereka,” pungkas Dedi. (Ant)





