Pentagon Alokasikan Dana Besar untuk Program Drone Tempur

oleh -4 Dilihat
Pentagon Alokasikan Dana Besar untuk Program Drone Tempur

KabarDermayu.com – Pentagon, Kementerian Pertahanan Amerika Serikat, dilaporkan tengah menyiapkan investasi besar-besaran senilai triliunan rupiah untuk mengembangkan program drone tempur raksasa. Langkah ini diambil sebagai respons terhadap perubahan lanskap peperangan modern.

Dalam upaya memperkuat armada drone tempurnya, militer Amerika Serikat dikabarkan mulai menjajaki perusahaan rintisan (startup) yang sebelumnya bergerak di bidang yang tidak terkait dengan sektor pertahanan. Hal ini menunjukkan adanya pergeseran strategi dalam pengadaan teknologi militer.

Menurut laporan terbaru dari The Washington Post, perusahaan-perusahaan yang dilirik mencakup entitas yang didirikan oleh mantan pebalap dan pegiat teknologi. Selain itu, perusahaan yang sebelumnya fokus pada pengembangan teknologi pemantauan lapangan golf hingga pertunjukan cahaya menggunakan drone juga turut mendapat perhatian.

Langkah strategis ini diambil sebagai respons terhadap dinamika konflik yang terjadi di Ukraina dan Timur Tengah. Kedua wilayah konflik tersebut telah membuktikan betapa krusialnya peran drone berbiaya rendah dalam peperangan modern.

Pentagon menilai bahwa Amerika Serikat perlu mempercepat peningkatan kapabilitas drone militernya. Untuk mewujudkan hal tersebut, mereka meluncurkan sebuah kompetisi bertajuk “Drone Dominance” yang akan berlangsung selama 18 bulan. Kompetisi ini bertujuan untuk mengidentifikasi produsen drone yang paling menjanjikan.

Melalui kompetisi ini, perusahaan-perusahaan peserta memiliki kesempatan untuk mendapatkan bagian dari kontrak senilai US$1,1 miliar, yang setara dengan sekitar Rp19,58 triliun. Nilai kontrak tersebut diperuntukkan bagi produksi hingga 300.000 unit drone. Lebih lanjut, pemerintahan Presiden Donald Trump mengusulkan alokasi dana yang jauh lebih besar, yaitu US$54,6 miliar atau sekitar Rp971,88 triliun dalam anggaran pertahanan tahun depan. Dana ini ditujukan untuk memperluas program perang drone secara signifikan.

Salah satu kandidat utama dalam program ini adalah Neros, sebuah startup yang berbasis di California. Perusahaan ini didirikan oleh Soren Monroe-Anderson, yang dikenal sebagai mantan juara dunia balap drone. Selain Neros, Skycutter, perusahaan asal Inggris yang menjalin kerja sama dengan produsen drone dari Ukraina, juga menjadi sorotan, sebagaimana dilaporkan oleh The Washington Post.

Baca juga: Como 1907 ke Liga Champions: Seleksi Pemain Ketat ala Mirwan Suwarso

Drone yang sedang diuji dalam program ini memiliki harga yang relatif terjangkau, yaitu sekitar US$5.000 atau Rp89 juta per unit. Desain drone ini memungkinkan untuk dikorbankan dalam pertempuran jika situasi mengharuskan. Dengan mengadopsi teknologi yang berkembang pesat di dunia balap drone, perangkat ini mampu melakukan manuver dengan kecepatan tinggi dan menyerang target dengan tingkat akurasi yang sangat presisi.

Untuk menentukan pemenang kompetisi, Pentagon menyelenggarakan serangkaian tantangan yang dirancang untuk menguji kemampuan drone dalam berbagai skenario misi. Uji coba ini mencakup kemampuan serangan jarak jauh hingga operasi penyerangan target yang berada di dalam bangunan.

Tujuan utama Pentagon dengan inisiatif ini adalah untuk mendorong percepatan inovasi. Selain itu, program ini juga dirancang untuk menghindari proses pengadaan yang cenderung panjang dan rumit, yang selama ini seringkali lebih menguntungkan kontraktor pertahanan besar.

Sebanyak 26 perusahaan berpartisipasi dalam putaran pertama kompetisi yang diselenggarakan di Fort Benning, Georgia, pada awal tahun ini. Skycutter berhasil tampil sebagai peserta terbaik dan memperoleh pesanan terbesar, yaitu lebih dari 2.500 unit drone.

Menjelang putaran berikutnya, berbagai startup yang awalnya beroperasi dari skala kecil, seperti garasi dan bengkel, kini bersaing ketat untuk mendapatkan tempat dalam salah satu program drone militer terbesar dalam sejarah Amerika Serikat. Keterlibatan startup ini menunjukkan potensi besar dalam ekosistem inovasi pertahanan.

Pejabat Pentagon meyakini bahwa peperangan di masa depan akan semakin didominasi oleh penggunaan kawanan drone yang berbiaya murah. Drone-drone ini akan mampu dikerahkan dalam jumlah besar di medan tempur, mengubah taktik dan strategi peperangan secara fundamental.