Pisang Langka: Krisis Gas Industri Ganggu Rantai Pasok Global

oleh -6 Dilihat
Pisang Langka: Krisis Gas Industri Ganggu Rantai Pasok Global

KabarDermayu.com – Jepang kini menghadapi ancaman baru terhadap rantai pasokan industri pangan, terutama terkait ketersediaan buah-buahan seperti pisang. Kekurangan pasokan etilena, gas yang krusial untuk mempercepat proses pematangan buah, membuat perusahaan pengolah buah di negara tersebut kesulitan menjaga stok produk di pasar domestik.

Meskipun pemerintah Jepang, melalui pernyataan Perdana Menteri Sanae Takaichi, berupaya menenangkan publik dengan menjamin pasokan nafta yang cukup hingga 2027, kenyataan di lapangan menunjukkan adanya tekanan pada sektor-sektor spesifik. Krisis etilena ini memaksa para pelaku industri untuk mencari sumber pasokan alternatif di luar jalur petrokimia yang biasa digunakan.

Menyadari urgensi situasi, perusahaan di Amerika Serikat, Catalytic Generators, yang berbasis di Virginia, telah mulai mendistribusikan mesin inovatif. Mesin ini mampu menghasilkan gas etilena dari bahan baku terbarukan seperti jagung, menawarkan solusi alternatif di tengah kelangkaan. Perusahaan tersebut juga tengah aktif menjajaki pembentukan jaringan distributor resmi di Jepang untuk memperluas jangkauan pasokan alat ini.

Di Jepang sendiri, Farmind, salah satu perusahaan terkemuka dalam pengolahan buah, melaporkan bahwa cadangan etilena mereka semakin menipis. Akibatnya, perusahaan ini secara proaktif mencari pemasok baru, baik dari dalam maupun luar negeri, demi memastikan kelangsungan operasionalnya.

Seorang juru bicara Farmind mengungkapkan dampak signifikan dari krisis ini. Biaya pengadaan etilena dilaporkan telah melonjak drastis, mencapai sepuluh kali lipat dari harga normal. “Jika kondisi ini terus berlanjut, pisang bisa saja menghilang dari meja makan masyarakat Jepang,” ujar juru bicara tersebut, mengutip laporan dari The Straits Times pada Selasa, 2 Juni 2026.

Etilena memegang peranan vital dalam industri pangan modern. Gas ini digunakan untuk mengontrol proses pematangan buah dalam skala besar sebelum produk tersebut siap didistribusikan ke konsumen. Gangguan pada pasokan etilena yang stabil secara langsung dapat mengacaukan rantai distribusi buah segar, yang pada akhirnya akan berdampak pada fluktuasi harga di tingkat konsumen.

Situasi ini secara gamblang menunjukkan kerentanan industri pangan modern yang sangat bergantung pada bahan kimia berbasis energi. Gangguan pasokan global pada sumber-sumber energi ini dapat menimbulkan risiko baru yang tak terduga, seperti yang terjadi pada kasus etilena ini.

Menghadapi tantangan ini, sejumlah pelaku industri kini mulai serius mempertimbangkan diversifikasi sumber etilena. Inovasi dalam teknologi berbasis bio atau pemanfaatan bahan baku pertanian seperti jagung menjadi fokus utama untuk mengurangi ketergantungan pada pasokan petrokimia yang rentan terhadap fluktuasi global.

Meskipun pemerintah Jepang telah memberikan penegasan mengenai keamanan pasokan energi utama, krisis yang melanda sektor etilena ini menjadi sorotan. Hal ini mengungkap adanya titik lemah dalam rantai pasokan industri yang selama ini mungkin belum mendapatkan perhatian publik yang memadai.

Baca juga: Polisi Diperintahkan Lanjutkan Kasus Andrie Yunus, Polda Metro Hormati Keputusan Hakim

Jika situasi ini tidak segera tertangani dan distabilkan, dampaknya tidak hanya terbatas pada industri pengolahan buah. Potensi kenaikan harga dan gangguan ketersediaan buah segar di pasar ritel Jepang dalam beberapa bulan mendatang juga menjadi ancaman nyata yang perlu diwaspadai.