Rupiah Anjlok ke Rp 17.854 Saat Lembaga Pemeringkat Internasional Soroti Kontroversi Pembentukan DSI

oleh -4 Dilihat
Rupiah Anjlok ke Rp 17.854 Saat Lembaga Pemeringkat Internasional Soroti Kontroversi Pembentukan DSI

KabarDermayu.com – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terpantau mengalami pelemahan pada penutupan perdagangan hari ini, meskipun diprediksi akan bergerak fluktuatif.

Berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia, kurs rupiah terhadap dolar AS tercatat di angka Rp 17.789 pada Selasa, 26 Mei 2026. Posisi ini menunjukkan pelemahan sebesar 46 poin dibandingkan kurs sebelumnya yang berada di level Rp 17.743 pada perdagangan Senin, 25 Mei 2026.

Sementara itu, pada perdagangan pasar spot per Kamis, 28 Mei 2026 hingga pukul 09.35 WIB, rupiah diperdagangkan pada level Rp 17.854 per dolar AS. Pelemahan ini mencapai 53 poin atau sekitar 0,30 persen dari posisi sebelumnya di level Rp 17.801 per dolar AS.

Pengamat ekonomi dan pasar uang, Ibrahim Assuaibi, menyatakan bahwa pembentukan BUMN ekspor satu pintu, yaitu PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI), oleh pemerintah telah menimbulkan kekhawatiran di pasar. Hal ini juga menjadi sorotan bagi sejumlah lembaga pemeringkat global.

Menurut Ibrahim, sentralisasi ekspor komoditas sumber daya alam utama melalui satu pintu tersebut berpotensi mengganggu mekanisme perdagangan yang ada.

Lebih lanjut, Ibrahim menyoroti bahwa lembaga pemeringkat internasional seperti S&P telah memberikan perhatian khusus terhadap implementasi kebijakan DSI. Mereka berpandangan bahwa mekanisme ini tidak akan mudah dijalankan dalam waktu singkat dan berpotensi meningkatkan risiko gangguan pada rantai perdagangan jika tidak berjalan optimal.

Di sisi lain, Ibrahim menambahkan bahwa lembaga pemeringkat Moody’s juga tengah mencermati potensi perubahan pola perdagangan akibat kebijakan ini. Perubahan mekanisme pasar dinilai dapat memicu ketidakseimbangan baru dalam sektor perdagangan dan arus modal.

Hal ini, menurut Ibrahim, akan menimbulkan masalah tersendiri. Oleh karena itu, wajar apabila terjadi arus modal asing keluar dari Indonesia yang kemudian berdampak pada pelemahan nilai tukar rupiah.

“Mata uang rupiah memang fluktuatif, namun ditutup melemah di rentang Rp 17.790 hingga Rp 17.850,” ungkap Ibrahim.

Perlu dicatat bahwa pasar saat ini masih terus mencermati perkembangan geopolitik global, terutama eskalasi ketegangan di Timur Tengah. Situasi ini turut mendorong peningkatan permintaan terhadap aset safe haven seperti dolar AS.

Baca juga: Sopir Taksi Online Ngamuk di Tol JORR, Hancurkan Spion Mobil Pengendara dengan Kunci Roda

Ibrahim berpendapat bahwa kombinasi sentimen dari kebijakan ekspor DSI dan tensi geopolitik global diperkirakan akan terus membayangi pergerakan rupiah dalam jangka pendek.