Rupiah Melemah ke Rp 17.718 Akibat Suku Bunga The Fed

oleh -8 Dilihat
Rupiah Melemah ke Rp 17.718 Akibat Suku Bunga The Fed

KabarDermayu.com – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diprediksi masih akan bergerak fluktuatif, namun ditutup melemah pada perdagangan hari ini.

Berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate atau Jisdor BI, kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat berada di level Rp 17.717 pada Jumat, 22 Mei 2026. Posisi rupiah itu melemah 44 poin dari kurs sebelumnya di level 17.673 pada perdagangan Kamis, 21 Mei 2026.

Sementara perdagangan di pasar spot pada Senin, 25 Mei 2026 hingga pukul 09.11 WIB rupiah ditransaksikan di Rp 17.718 per dolar AS. Posisi itu melemah 1 poin atau 0,01 persen dari posisi sebelumnya di level Rp 17.717 per dolar AS.

Pengamat ekonomi dan pasar uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan, pelemahan kurs rupiah dipengaruhi kekhawatiran pelaku pasar terhadap arah suku bunga acuan The Federal Reserve (The Fed) ke depannya.

Kenaikan harga minyak akibat dampak perang Iran, membuat pelaku pasar melihat The Fed sekarang berpeluang menaikkan suku bunga acuan akibat meningkatnya inflasi AS.

Baca juga: Jembatan Gantung Wisata di Labuan Bajo Ambruk, Dua Turis Austria Meninggal

“Bahkan The Fed berpeluang menaikkan sampai 50 basis poin,” kata Ibrahim dalam riset hariannya, Senin, 25 Mei 2026.

Suku bunga The Fed 2026 berpotensi kembali merangkak naik, setelah bank sentral Amerika Serikat (AS) mengeluarkan sinyal pengetatan moneter yang tidak terduga. Langkah agresif ini memicu guncangan hebat di pasar finansial global, karena bertolak belakang dengan estimasi para pelaku pasar sebelumnya.

Risalah pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) menegaskan bahwa para pejabat bank sentral siap mengambil tindakan tegas demi menjaga stabilitas harga. Kebijakan makroekonomi ini diambil di tengah ketidakpastian geopolitik yang kembali memanaskan jalur distribusi energi dunia.

Pelaku pasar juga mencemaskan nasib perundingan antara AS dengan Iran yang dimediasi oleh Pakistan. Pelaku pasar belum melihat indikasi yang meyakinkan bahwa kesepakatan perdamaian akan segera bisa tercapai.

“Mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp 17.680—Rp 17.800,” ujarnya.

Sebagai informasi, dua lembaga pemeringkat dunia yakni S&P dan Moody’s Ratings, memperingkatkan risiko dari manuver pemerintah yang memusatkan ekspor komoditas mineral strategis lewat badan ekspor di bawah BPI Danantara.

S&P menilai, rencana pemerintah untuk mengendalikan pengiriman komoditas secara terpusat dapat merugikan ekspor, menekan pendapatan pemerintah dan memengaruhi neraca pembayaran.

Setali tiga uang, Moody’s Ratings menilai sentralisasi ekspor komoditas berpotensi berdampak negatif terhadap profil kredit perusahaan di sektor terkait, khususnya pertambangan.

“Ini kemungkinan akan menurunkan peringkat rating Indonesia. Pasar juga melihatnya sebagai monopoli yang mendorong arus modal asing keluar dari pasar Indonesia,” ujarnya.

Presiden Prabowo Subianto dan pemerintahannya diminta harusnya mulai melakukan pembenahan secara konkrit pada aspek-aspek yang mempengaruhi nilai tukar rupiah dan IHSG.