Rupiah Melemah: Wamen Ni Luh Ungkap Potensi Daya Tarik Pariwisata RI

oleh -10 Dilihat
Rupiah Melemah: Wamen Ni Luh Ungkap Potensi Daya Tarik Pariwisata RI

KabarDermayu.com – Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Wamenparekraf), Ni Luh Puspa, melihat pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat sebagai sebuah peluang besar bagi pariwisata Indonesia.

Menurutnya, kondisi ini justru akan meningkatkan daya tarik Indonesia di mata wisatawan mancanegara. Wisatawan berpotensi memilih Indonesia sebagai destinasi liburan mereka.

Pernyataan ini disampaikan Ni Luh Puspa saat menghadiri pameran perjalanan Bali & Beyond Travel Fair (BBTF) 2026 di Kabupaten Badung, Sabtu lalu. Ia berpendapat bahwa dengan kurs Rupiah yang lebih rendah, wisatawan akan merasa lebih beruntung.

Hal ini memungkinkan mereka untuk berwisata lebih lama di Indonesia. “Iya kami melihat ini (pelemahan rupiah) menjadi satu peluang bagi Indonesia bahwa ini akan membuat Indonesia memiliki daya tarik yang lebih bagi wisatawan,” ujar Wamenparekraf.

Baca juga: Seskab Teddy dan Mensos Bahas Rencana Pendidikan 1.000 Anak Kurang Mampu dan Jalanan

Untuk memaksimalkan potensi ini, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) tengah gencar melakukan promosi. Berbagai misi penjualan dan partisipasi dalam pameran internasional menjadi strategi utama untuk menarik lebih banyak kunjungan.

Ni Luh Puspa menekankan bahwa situasi pelemahan Rupiah ini harus dilihat sebagai kesempatan emas. “Jadi saya rasa bahwa situasi yang ada ini menjadi suatu peluang bagi Indonesia bahwa Indonesia menjadi memiliki daya tarik yang lebih untuk dikunjungi dengan lama tinggal yang bisa lebih lama begitu dari biasanya, luar biasa,” tuturnya.

Ia menambahkan bahwa pelemahan Rupiah ini dipengaruhi oleh dinamika geopolitik global, termasuk konflik yang terjadi di Timur Tengah. Meskipun demikian, data Kemenparekraf menunjukkan bahwa sektor pariwisata Indonesia tetap menunjukkan performa yang baik.

Pada periode Januari hingga Maret 2026, jumlah kunjungan wisatawan tercatat meningkat dibandingkan dengan triwulan yang sama di tahun sebelumnya. Kemenparekraf berharap tren positif ini dapat terus berlanjut.

Bank Indonesia pun diharapkan dapat mencatatkan hasil yang positif dari sisi kunjungan dan devisa pariwisata pada triwulan kedua tahun 2026.

Dalam menghadapi situasi global yang dinamis ini, Wamenparekraf mendorong para pelaku usaha pariwisata untuk melakukan penyesuaian strategi pasar. Alih-alih hanya mengandalkan pasar jarak jauh, fokus kini diarahkan untuk memperkuat kunjungan dari negara-negara tetangga.

Strategi ini dikenal sebagai penguatan pasar short-haul (jarak dekat) dan medium-haul (jarak menengah). “Perkuat bagaimana agar short-haul dan medium-haul ini bisa mengalami peningkatan, tentu ini menjadi substitusi dari pasar Eropa maupun pasar Amerika dan Timur Tengah yang mengalami penurunan akibat situasi geopolitik,” jelasnya.

Ni Luh Puspa memaparkan bahwa data triwulan pertama 2026 memang menunjukkan adanya peningkatan kunjungan dari wisatawan medium-haul dan short-haul. Namun, ia juga mengakui adanya penurunan jumlah wisatawan dari Timur Tengah.

Oleh karena itu, Wamenparekraf mengajak seluruh pelaku industri pariwisata untuk tidak berputus asa. Ia menekankan pentingnya kolaborasi dan sikap optimis untuk meraih pencapaian di tengah berbagai situasi yang ada.