Rupiah Rp17.900: 3 Biang Kerok Geopolitik Timur Tengah & Sinyal The Fed

oleh -6 Dilihat
Rupiah Rp17.900: 3 Biang Kerok Geopolitik Timur Tengah & Sinyal The Fed

KabarDermayu.com – Nilai tukar rupiah kembali menjadi sorotan setelah melemah hingga menembus level psikologis Rp17.900 per dolar Amerika Serikat. Pergerakan ini memicu kekhawatiran pelaku pasar karena mencerminkan tekanan yang tidak hanya berasal dari faktor eksternal, tetapi juga dipengaruhi kondisi domestik yang cukup kompleks.

Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi menilai terdapat sejumlah faktor utama yang menjadi penyebab pelemahan rupiah dalam beberapa waktu terakhir. Salah satu pemicu terbesar berasal dari meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang mendorong kenaikan harga minyak dunia, sekaligus memperkuat posisi dolar AS di pasar global.

“Hari ini rupiah kembali mengalami pelemahan akibat menguatnya minyak mentah dunia, WTI di 94,58 (dolar AS per barel), kemudian Brent crude oil pun mengalami penguatan di 96,72,” kata Ibrahim dalam keterangannya di Jakarta, Rabu, 3 Juni 2026.

Lonjakan harga minyak tersebut tidak berdiri sendiri, melainkan diperparah oleh ketidakpastian global akibat kebuntuan perundingan antara Amerika Serikat dan Iran. Kondisi ini menambah tekanan sentimen pasar karena investor cenderung menghindari aset berisiko dan memilih dolar AS sebagai aset lindung nilai.

Baca juga: Kantor BGN Diperiksa Usai Dadan Hindayana Dicopot, Dasco Beri Pernyataan

Selain itu, ketegangan antara Iran dan Israel juga ikut memperburuk situasi. Eskalasi konflik di kawasan tersebut menimbulkan kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi global, sehingga harga minyak cenderung bertahan di level tinggi. Situasi ini kemudian berimbas pada inflasi global, terutama di Amerika Serikat.

Menurut Ibrahim, kenaikan harga energi berpotensi menjaga inflasi AS tetap tinggi. Hal ini membuat bank sentral Amerika Serikat atau The Fed cenderung mempertahankan suku bunga tinggi dalam jangka waktu lebih lama. Bahkan, masih terbuka peluang kenaikan suku bunga tambahan apabila inflasi tidak menunjukkan penurunan signifikan.

“Kita lihat bahwa salah satu pejabat dari bank sentral AS, Hammack, yang dia mengatakan bahwa mungkin perlu bertindak segera jika tren inflasi tidak meredah,” jelasnya. “Ini yang mengindikasikan bahwa kemungkinan besar akan menaikkan suku bunga satu kali dalam tahun 2026,” sambung Ibrahim.

Dari sisi domestik, tekanan terhadap rupiah juga datang dari meningkatnya kebutuhan dolar AS untuk impor energi yang harganya ikut naik seiring kenaikan minyak dunia. Tidak hanya itu, permintaan valas juga meningkat karena kebutuhan pembayaran dividen serta kewajiban utang luar negeri yang jatuh tempo.

Ibrahim juga menyoroti adanya kecenderungan sebagian masyarakat dan pelaku usaha yang mengalihkan simpanan ke instrumen berbasis valuta asing. Perilaku ini turut meningkatkan permintaan dolar AS di dalam negeri, sehingga menambah tekanan terhadap nilai tukar rupiah.

Kombinasi faktor global dan domestik tersebut membuat tekanan terhadap rupiah semakin kuat. Oleh karena itu, diperlukan langkah strategis dari pemerintah untuk menjaga stabilitas ekonomi dan menjaga daya beli masyarakat agar tidak semakin tertekan.

Dalam pandangan Ibrahim, pemerintah perlu memastikan ketersediaan pasokan barang, terutama komoditas impor yang terdampak pelemahan rupiah. Selain itu, penguatan program bantuan sosial juga dinilai penting agar daya beli masyarakat tetap terjaga di tengah tekanan harga.

“Kita harus tahu bahwa pemerintah harus mendorong industrialisasi dan ekonomi biru. Ini yang sangat sulit sekali sampai sekarang. Kenapa? Kita lihat bahwa pembentukan pertumbuhan ekonomi itu 50 persen dari daya beli masyarakat,” tuturnya.

Selain itu, percepatan transformasi digital serta penyederhanaan regulasi investasi juga menjadi kunci penting untuk menarik arus modal asing. Peningkatan investasi, fundamental ekonomi Indonesia diharapkan semakin kuat sehingga dapat menopang stabilitas nilai tukar rupiah dalam jangka menengah hingga panjang. (Ant)