Taufik Hidayat Alami Masalah Sejak Dini: Ibu Meninggal Akibat Stres, Ayah Dianiaya

oleh -2 Dilihat
Taufik Hidayat Alami Masalah Sejak Dini: Ibu Meninggal Akibat Stres, Ayah Dianiaya

KabarDermayu.com – Sejumlah fakta baru mengenai latar belakang keluarga Taufik Hidayat, tersangka kasus dugaan penyekapan dan penganiayaan terhadap YTR, mulai terungkap ke publik.

Kepala Desa Ciaro, Kecamatan Nagreg, Kabupaten Bandung, Kusnaedi, menyebut Taufik Hidayat memiliki riwayat perilaku bermasalah sejak usia muda. Tindakan agresif dan konflik yang melibatkan Taufik bukanlah hal baru di lingkungan tempat tinggalnya.

Kusnaedi mengaku pernah menangani persoalan hukum yang menjerat Taufik Hidayat sekitar sepuluh tahun lalu. Saat itu, Taufik tersandung kasus penganiayaan dan penggelapan sepeda motor hingga berujung hukuman penjara.

“Pernah ditahan kasus penganiayaan dan penggelapan motor, saya yang ngurusin. Motor orang Garut. Pernah ditahan di Polres Rancaekek, divonis 1,5 tahun dipenjara,” ujarnya.

Setelah kasus tersebut, Kusnaedi mengaku tidak lagi bertemu dengan Taufik Hidayat selama bertahun-tahun. Ia menilai karakter keras Taufik terbentuk karena pola pengasuhan yang terlalu memanjakan dirinya sejak kecil.

“Kalau ribut sama tetangga suka dibela ayahnya, jadi kesayangan,” kata Kusnaedi.

Selain riwayat kekerasan, Kusnaedi mengungkap kondisi keluarga Taufik Hidayat yang disebut penuh persoalan. Ia menuturkan ibu kandung Taufik mengalami tekanan mental berkepanjangan sebelum meninggal dunia.

Menurutnya, sang ibu mengalami stres berat akibat perilaku anak-anaknya yang kerap bermasalah. Tidak hanya Taufik Hidayat, saudara-saudaranya juga disebut memiliki catatan perilaku negatif.

Kusnaedi menjelaskan kakak perempuan Taufik Hidayat telah meninggal dunia. Sementara kakak laki-lakinya dikenal sering mabuk dan terlibat perselisihan.

“Yang kedua suka mabok, kerja juga dipecat. Punya istri sudah dua kali cerai, anak satu, sering ancam orang berkelahi,” ujarnya.

Adik bungsu Taufik Hidayat disebut meninggal akibat overdosis obat-obatan.

“Yang bungsu meninggal karena over dosis, minum obat-obatan sampai meninggal dunia,” kata Kusnaedi.

Tekanan akibat persoalan keluarga tersebut, lanjutnya, membuat ibu Taufik Hidayat mengalami gangguan mental yang cukup serius sebelum wafat.

“Ibunya stress, setahun ampleung-ampleungan (jalan kaki ke sana ke mari),” ungkapnya.

Ia mengatakan sang ibu lebih banyak mengurung diri di rumah, tidak mau berbicara, dan menolak diperiksa kesehatannya.

“Istrinya gak mau dibawa diperiksa, di rumah diem, gak ngomong, lalu ada kesempatan keluar, jalan terus,” katanya.

Bahkan, menurut Kusnaedi, suami korban sempat mencari keberadaan istrinya hingga ke kawasan pegunungan karena sering pergi tanpa tujuan yang jelas.

“Mungkin itu (saking stress melihat anak-anaknya),” tambahnya.

Sementara itu, ayah Taufik Hidayat yang bernama Tata mengaku pernah menjadi korban kekerasan anaknya sendiri. Peristiwa tersebut terjadi ketika Taufik marah karena tidak menemukan makanan di rumah.

“Saya pernah dipukul kepala pakai kayu. Waktu itu saya lagi macul di sawah, dia di rumah lagi nganggur, mau makan gak ada apa-apa,” tutur Tata.

Saat kejadian, Tata sedang bekerja di sawah. Ia mengaku dipukul hingga terjatuh dan beruntung ada warga lain yang mencegah Taufik melanjutkan aksinya.

“Dia datang ke sawah, langsung mukul, ngagebru (jatuh). Untung saya ada temen dua, mau mukul lagi dihalangin,” katanya.

Usai insiden tersebut, Taufik Hidayat sempat meninggalkan rumah selama sekitar satu pekan sebelum akhirnya kembali dan meminta maaf kepada ayahnya.

“Dia pergi kabur, gak balik lagi ke rumah. Kabur seminggu, datang lagi, minta maaf sambil nangis. Kapoekan (khilaf) katanya,” ujar Tata.