Trump Tiba di Beijing, Disambut Wapres Tiongkok

oleh -5 Dilihat
Trump Tiba di Beijing, Disambut Wapres Tiongkok

KabarDermayu.com – Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, tiba di Beijing pada Rabu, 13 Mei 2026 malam. Kedatangannya disambut hangat oleh pejabat tinggi Tiongkok menjelang pertemuan puncak penting dengan Presiden Xi Jinping.

Pertemuan ini diagendakan untuk membahas upaya peningkatan perdagangan antara kedua negara. Selain itu, isu-isu potensial gesekan seperti terkait Iran dan Taiwan juga menjadi agenda penting.

Trump mendarat dengan pesawat kepresidenan Air Force One di Bandara Internasional Ibu Kota Beijing pada pukul 19:50 waktu setempat. Perjalanan ini merupakan bagian dari lawatan internasionalnya setelah penerbangan panjang dari Washington.

Setibanya di bandara, Trump disambut oleh jajaran pejabat Tiongkok. Formasi pengawal kehormatan militer dan puluhan mahasiswa Tiongkok yang melambaikan bendera AS dan Tiongkok turut memeriahkan penyambutan.

Di bawah sorotan karpet merah, Trump sempat berhenti sejenak. Para mahasiswa meneriakkan “selamat datang, selamat datang, sambutan hangat” dalam bahasa Mandarin. Trump merespons dengan mengepalkan tinju ke udara dan tersenyum lebar sebelum melanjutkan perjalanannya dengan limusin.

Kedatangan Trump menandai kunjungan pertama presiden AS ke Tiongkok dalam hampir satu dekade terakhir. Ini juga merupakan kunjungan pertamanya sejak tahun 2017.

Sebagai indikasi pentingnya kunjungan ini bagi Beijing, Wakil Presiden Tiongkok Han Zheng hadir langsung di bandara untuk menyambut Presiden AS. Kehadirannya menunjukkan tingkat penghormatan yang diberikan.

Turut hadir pula Duta Besar Tiongkok untuk AS, Xie Feng, dan Wakil Menteri Luar Negeri Tiongkok, Ma Zhaoxu. Rombongan penyambutan di bandara ini menunjukkan perubahan signifikan dari praktik sebelumnya.

Sebelumnya, pejabat berpangkat lebih rendah seperti anggota dewan negara seringkali ditugaskan untuk menyambut presiden AS yang berkunjung. Hal ini termasuk saat kunjungan Trump sendiri pada tahun 2017.

Pada kunjungan tahun 2017 tersebut, Trump dan Ibu Negara Melania Trump disambut oleh Yang Jiechi, yang saat itu menjabat sebagai anggota dewan negara. Duta Besar Tiongkok untuk AS saat itu, Cui Tiankai, juga turut hadir dalam penyambutan.

Trump berangkat dari Washington pada hari Selasa. Perjalanannya sempat tertunda karena situasi perang yang sedang berlangsung di Iran. Trump menyatakan harapannya untuk melakukan “pembicaraan panjang” dengan Xi Jinping mengenai Iran.

Tiongkok merupakan pelanggan utama minyak Iran yang saat ini dikenai sanksi oleh Amerika Serikat. Oleh karena itu, peran Tiongkok dalam isu ini dianggap krusial.

Trump diperkirakan akan meminta Xi untuk mendesak Iran agar bersedia mencapai kesepakatan dengan Amerika Serikat. Meskipun demikian, Trump menegaskan bahwa Amerika Serikat tidak membutuhkan bantuan Tiongkok dalam menyelesaikan masalah terkait Iran.

“Saya rasa kita tidak membutuhkan bantuan apa pun dengan Iran. Kita akan memenangkannya dengan satu atau lain cara. Kita akan memenangkannya secara damai atau sebaliknya,” kata Trump kepada wartawan saat meninggalkan Gedung Putih.

Perjalanan Trump minggu ini akan mencakup pembicaraan dengan Xi pada hari Kamis dan Jumat. Jadwal yang padat tersebut juga akan meliputi jamuan makan malam kenegaraan dan resepsi teh.

Pembicaraan yang dijadwalkan diperkirakan akan mencakup diskusi tentang penjualan senjata AS ke Taiwan. Isu perdagangan dan investasi bersama juga akan menjadi topik penting.

Baca juga: Perbankan Indonesia Manfaatkan AI Melawan Kejahatan Siber

Selain itu, kecerdasan buatan dan potensi risiko yang terkait dengannya juga akan dibahas oleh kedua pemimpin, kata para pejabat AS.

Pada hari Selasa, Trump melalui unggahan di Truth Social menyatakan akan meminta Xi untuk “membuka” Tiongkok bagi bisnis AS ketika kedua pemimpin bertemu.

“Saya akan meminta Presiden Xi, seorang Pemimpin yang luar biasa, untuk ‘membuka’ Tiongkok sehingga orang-orang brilian ini dapat melakukan keajaiban mereka, dan membantu membawa Republik Rakyat ke tingkat yang lebih tinggi!” tulis Trump di media sosial.

Ia merujuk pada para CEO bisnis AS yang menemaninya dalam perjalanan tersebut. “Itu akan menjadi permintaan pertama saya,” tegasnya.

Menanggapi unggahan Trump, Guo Jiakun, juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok, menyatakan bahwa Beijing siap untuk “memperluas kerja sama, mengelola perbedaan, dan menanamkan lebih banyak stabilitas dan kepastian ke dalam dunia yang bergejolak”.

Puluhan CEO terkemuka AS telah bergabung dengan Trump dalam kunjungannya ke Tiongkok. Di antaranya adalah Jensen Huang dari Nvidia, Elon Musk dari Tesla, dan Tim Cook dari Apple.

Para CEO yang mendampingi Trump sebagian besar berasal dari perusahaan yang sedang berupaya menyelesaikan masalah bisnis dengan Tiongkok. Contohnya Nvidia, yang menghadapi kendala dalam mendapatkan izin regulasi untuk menjual chip kecerdasan buatan H200 yang canggih di sana.

Sementara Trump berinteraksi dengan Huang dan Elon Musk di atas Air Force One, Bessent mengadakan putaran negosiasi perdagangan terbarunya dengan Wakil Perdana Menteri Tiongkok He Lifeng. Negosiasi ini berlangsung di ruang resepsi bandara Incheon, Korea Selatan.

Seorang pejabat AS mengatakan pembicaraan tersebut berlangsung sekitar tiga jam. Kantor berita resmi Tiongkok, Xinhua, menggambarkannya sebagai “pertukaran yang jujur, mendalam, dan konstruktif”. Namun, para pejabat tidak memberikan ringkasan yang lebih rinci mengenai hasil pembicaraan tersebut.

Hubungan perdagangan antara Beijing dan Washington telah mengalami ketegangan dalam beberapa tahun terakhir. Kedua pihak berupaya mempertahankan gencatan senjata yang disepakati pada bulan Oktober lalu.

Dalam kesepakatan tersebut, Trump menangguhkan tarif tiga digit pada barang-barang Tiongkok. Xi Jinping, sebagai imbalannya, mundur dari upaya pembatasan pasokan global logam tanah jarang, yang sangat penting dalam pembuatan berbagai barang mulai dari mobil listrik hingga senjata.

Kedua negara juga diharapkan membahas forum-forum untuk mendukung perdagangan dan investasi bersama. Dialog mengenai isu-isu AI juga akan menjadi bagian penting dari diskusi.

Washington berupaya meningkatkan penjualan pesawat Boeing, barang-barang pertanian, dan energi ke Tiongkok. Tujuannya adalah untuk mengurangi defisit perdagangan yang telah lama menjadi perhatian Trump.

Di sisi lain, Beijing menginginkan AS untuk melonggarkan pembatasan ekspor peralatan pembuatan chip dan semikonduktor canggih. Hal ini menjadi salah satu prioritas Tiongkok dalam negosiasi tersebut, menurut para pejabat AS.