KabarDermayu.com – Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, menegaskan kembali komitmen negaranya untuk meyakinkan komunitas internasional bahwa Iran tidak sedang dalam upaya mengembangkan senjata nuklir. Selain itu, Iran juga berupaya membuktikan diri tidak menjadi sumber ketidakstabilan di kawasan Timur Tengah.
Pernyataan ini disampaikan oleh Pezeshkian dalam sebuah pidato yang dikutip oleh kantor berita resmi IRNA dan dilaporkan oleh Anadolu Agency pada Minggu, 24 Mei 2026. Ia menekankan bahwa Iran telah menyatakan hal ini sebelumnya, bahkan sebelum wafatnya Ayatollah Ali Khamenei, dan kembali menegaskan kesiapan untuk meyakinkan dunia mengenai niat Iran yang tidak mencari senjata nuklir.
Lebih lanjut, Pezeshkian mengalihkan fokus tuduhan ketidakstabilan di kawasan kepada Tel Aviv. Ia secara eksplisit menuduh Israel sebagai pemicu utama gejolak regional. Pezeshkian juga melontarkan tuduhan bahwa Israel tengah mengupayakan realisasi dari visi “Israel Raya”.
Baca juga: Como 1907: Selangkah Lagi Liga Champions Djarum Group
Dalam konteks negosiasi, Pezeshkian memberikan jaminan bahwa para perwakilan Iran tidak akan pernah menoleransi pengorbanan kehormatan dan martabat bangsa dalam setiap proses perundingan yang dijalani oleh negara.
Pernyataan tegas dari Presiden Iran ini muncul sehari setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengumumkan bahwa kesepakatan yang bertujuan mengakhiri perang antara Iran dan Amerika Serikat sebagian besar telah berhasil dinegosiasikan dan hanya menunggu tahap finalisasi.
Situasi di kawasan Timur Tengah sendiri dilaporkan mengalami peningkatan ketegangan yang signifikan sejak bulan Februari lalu. Ketegangan ini dipicu oleh serangan yang dilancarkan oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran. Sebagai respons atas serangan tersebut, Teheran membalas dengan melancarkan serangan terhadap Israel dan sekutu-sekutu AS yang berada di wilayah Teluk. Iran juga mengambil langkah tegas dengan menutup Selat Hormuz.
Upaya meredakan konflik membuahkan hasil dengan diberlakukannya gencatan senjata pada tanggal 8 April. Gencatan senjata ini dicapai melalui mediasi yang dilakukan oleh Pakistan. Selanjutnya, Presiden Trump memutuskan untuk memperpanjang gencatan senjata tersebut tanpa batas waktu yang ditentukan.





