Harga Minyak Ambles 5%, Perang AS-Iran Segera Berakhir

oleh -6 Dilihat
Harga Minyak Ambles 5%, Perang AS-Iran Segera Berakhir

KabarDermayu.com – Harga minyak dunia mengalami penurunan signifikan pada perdagangan Senin pagi waktu Asia. Hal ini dipicu oleh harapan membaiknya hubungan antara Amerika Serikat dan Iran, yang berujung pada penguatan pasar saham Asia.

Harga minyak mentah Brent tercatat melemah 4,8 persen, mencapai US$98,52 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) yang diperdagangkan di Amerika Serikat juga mengalami pelemahan sebesar 5 persen, ditutup pada US$91,76 per barel.

Penurunan harga minyak ini terjadi setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengindikasikan bahwa kesepakatan dengan Iran sebagian besar telah tercapai. Trump sebelumnya juga menyampaikan bahwa kesepakatan tersebut akan mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz.

Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran krusial yang selama ini menjadi rute distribusi bagi sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair dunia. Pembukaan kembali jalur ini diharapkan dapat melancarkan kembali pasokan energi global.

Pasar saham Asia turut merasakan dampak positif dari perkembangan ini. Indeks Nikkei 225 Jepang misalnya, berhasil naik 2,9 persen dan menembus level 65.000 untuk pertama kalinya.

Jepang dan Korea Selatan merupakan dua negara yang paling rentan terdampak oleh konflik di kawasan Teluk, mengingat ketergantungan mereka yang tinggi pada pasokan energi dari wilayah tersebut.

Dalam sebuah unggahan di media sosial, Trump menyatakan bahwa ia telah berkomunikasi dengan para pemimpin dari Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, dan negara-negara lain terkait upaya perdamaian.

Baca juga: Noel Ebenezer: Pemerasan Merusak Reputasi dan Keluarga

“Kesepakatan sebagian besar telah dinegosiasikan, tinggal menunggu finalisasi antara Amerika Serikat, Republik Islam Iran, dan sejumlah negara lain yang terlibat,” ujar Trump, seperti dikutip pada Senin, 25 Mei 2026.

Ia menambahkan bahwa aspek dan detail akhir dari kesepakatan tersebut masih dalam tahap pembahasan dan akan segera diumumkan. Trump juga mengaku telah berbicara dengan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, dan menyebut pembicaraan tersebut berjalan sangat baik.

Meskipun Trump belum merinci seluruh isi kesepakatan, ia menekankan bahwa perjanjian tersebut akan mencegah Iran memperoleh senjata nuklir. Pernyataan ini memberikan sinyal positif terkait upaya deeskalasi di kawasan.

Sehari setelah pernyataan tersebut, Trump kembali mengimbau agar proses negosiasi dilakukan dengan hati-hati. “Kedua pihak harus meluangkan waktu dan memastikan semuanya benar. Tidak boleh ada kesalahan!” tulis Trump di Truth Social.

Di sisi lain, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, mengakui bahwa posisi Iran dan Amerika Serikat memang menunjukkan adanya pendekatan dalam sepekan terakhir.

Namun, Baqaei menegaskan bahwa hal tersebut belum tentu berarti kesepakatan akan tercapai pada isu-isu utama yang menjadi pokok permasalahan. Ia juga menyiratkan adanya “pernyataan yang saling bertentangan” yang dilontarkan oleh pihak Amerika Serikat.

Pasar energi global telah mengalami gejolak sejak awal Maret, menyusul ancaman Iran untuk menyerang kapal yang melintasi Selat Hormuz sebagai respons atas serangan yang dilancarkan oleh Amerika Serikat dan Israel.

Meskipun harga minyak mengalami penurunan tajam pada hari itu, nilainya masih terpantau lebih tinggi jika dibandingkan dengan periode sebelum konflik pecah. Sebelum ketegangan meningkat, harga minyak Brent berada di kisaran US$70 per barel.

Iran sebelumnya juga telah melancarkan serangan ke Israel, serta beberapa negara sekutu Amerika Serikat di kawasan Teluk seperti Arab Saudi, Bahrain, dan Uni Emirat Arab. Situasi ini memicu kekhawatiran akan eskalasi konflik yang lebih luas.

Gencatan senjata kemudian berhasil disepakati pada awal April. Setelah periode tersebut, Amerika Serikat dan Iran mulai menginisiasi pembicaraan untuk mencapai kesepakatan damai jangka panjang.

Kepala Riset Energi MST Financial, Saul Kavonic, berpendapat bahwa pasar mulai melihat adanya harapan untuk meredanya tekanan pada harga minyak dalam jangka pendek. “Saat ini mulai terlihat secercah harapan yang dapat membawa penurunan harga minyak dalam waktu dekat,” ujar Kavonic, seperti dikutip dari BBC.

Namun demikian, Kavonic menilai bahwa pasar minyak dunia kemungkinan masih akan tetap ketat hingga tahun 2027. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, termasuk waktu yang dibutuhkan untuk memulihkan jalur distribusi di Selat Hormuz.

Selain itu, perbaikan fasilitas minyak yang mengalami kerusakan akibat konflik, serta upaya membangun kembali cadangan minyak global yang terus menurun sejak perang dimulai, juga memerlukan waktu yang tidak sebentar.