KabarDermayu.com – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali mengalami pelemahan signifikan. Hingga pukul 10.38 WIB di pasar spot, rupiah tercatat anjlok hingga menembus level Rp17.905 per dolar AS.
Pengamat ekonomi dan pasar uang, Ibrahim Assuaibi, mengidentifikasi beberapa faktor utama di balik pelemahan rupiah ini. Salah satu pemicu utamanya adalah meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Ketegangan di Timur Tengah ini berdampak langsung pada kenaikan harga minyak dunia. Kenaikan harga minyak mentah, baik jenis WTI yang mencapai US$94,58 per barel maupun Brent crude oil yang menyentuh US$96,72, turut memperkuat posisi dolar AS.
“Hari ini rupiah kembali mengalami pelemahan akibat menguatnya minyak mentah dunia,” kata Ibrahim dalam keterangannya, Rabu, 3 Juni 2026.
Selain itu, kebuntuan dalam perundingan antara AS dan Iran juga menambah ketidakpastian di pasar keuangan global. Sentimen pasar semakin memburuk akibat ketegangan antara Iran dan Israel, yang menimbulkan kekhawatiran terhadap pasokan energi global.
Kondisi ini secara otomatis mendorong harga minyak untuk tetap bertahan di level tinggi. Kenaikan harga energi ini diakui berpotensi mempertahankan tekanan inflasi di Amerika Serikat.
Hal tersebut membuat bank sentral AS, The Fed, cenderung mempertahankan suku bunga acuannya pada level tinggi. Bahkan, The Fed masih memiliki peluang untuk menaikkan suku bunga sekali lagi pada tahun 2026.
“Kita lihat bahwa salah satu pejabat dari bank sentral AS, Hammack, yang dia mengatakan bahwa mungkin perlu bertindak segera jika tren inflasi tidak meredah. Artinya apa? Bahwa ini yang mengindikasikan bahwa kemungkinan besar akan menaikkan suku bunga satu kali dalam tahun 2026,” ujar Ibrahim.
Dari sisi domestik, Ibrahim menilai bahwa tingginya harga minyak meningkatkan kebutuhan impor energi oleh Indonesia, yang pada gilirannya menambah permintaan dolar AS. Selain itu, kebutuhan valuta asing (valas) untuk pembayaran dividen dan kewajiban utang yang jatuh tempo juga memberikan tekanan tambahan terhadap rupiah.
Ibrahim juga menyoroti kecenderungan sebagian masyarakat untuk mengalihkan simpanan mereka ke instrumen investasi berbasis valas. Hal ini turut meningkatkan permintaan dolar AS di dalam negeri.
Untuk meredam tekanan terhadap rupiah, Ibrahim menekankan pentingnya pemerintah menjaga stabilitas ekonomi domestik dan daya beli masyarakat melalui berbagai kebijakan yang tepat sasaran.
Pemerintah perlu memastikan ketersediaan pasokan barang, terutama barang-barang impor yang harganya terdampak kenaikan nilai tukar. Selain itu, penguatan program bantuan sosial (bansos) yang tepat sasaran juga menjadi krusial.
Lebih lanjut, Ibrahim menambahkan bahwa pemerintah perlu mendorong sektor riil dengan memajukan industrialisasi dan mengembangkan ekonomi biru. Ia menekankan pentingnya peningkatan produktivitas sektor pertanian untuk memperkuat ketahanan pangan nasional.
“Kita harus tahu bahwa pemerintah harus mendorong industrialisasi dan ekonomi biru. Ini yang sangat sulit sekali sampai sekarang. Kenapa? Kita lihat bahwa pembentukan pertumbuhan ekonomi itu 50 persen dari daya beli masyarakat,” ujarnya.
Ibrahim juga menyoroti pentingnya menjaga stabilitas harga pangan dan ketersediaan pasokan barang. Hal ini sangat krusial untuk menjaga daya beli masyarakat dan meredam tekanan inflasi.
Menjaga stabilitas ekonomi domestik merupakan kunci utama dalam menghadapi pelemahan nilai tukar. Kebijakan fiskal dan moneter yang terkoordinasi diperlukan untuk meredam volatilitas rupiah.
Dalam jangka pendek, pelemahan rupiah ini dapat memicu kenaikan harga barang-barang impor, yang berpotensi meningkatkan inflasi. Oleh karena itu, langkah-langkah antisipatif dari pemerintah sangat dinantikan.
Pemerintah perlu terus memantau perkembangan pasar keuangan global dan domestik. Komunikasi yang efektif mengenai kebijakan ekonomi juga penting untuk menjaga kepercayaan investor dan masyarakat.
Faktor eksternal seperti kebijakan suku bunga The Fed dan ketegangan geopolitik akan terus menjadi perhatian utama. Namun, penguatan fundamental ekonomi domestik tetap menjadi prioritas untuk menjaga stabilitas jangka panjang.
Dengan langkah-langkah yang tepat, Indonesia diharapkan dapat melewati periode pelemahan nilai tukar ini dan kembali memperkuat posisi rupiah di pasar global.
Baca juga: Dua Mantan Wakil Kepala BGN Menjadi Tersangka Kasus yang Diusut Kejagung
“Kita harus tahu bahwa pemerintah harus mendorong industrialisasi dan ekonomi biru. Ini yang sangat sulit sekali sampai sekarang. Kenapa? Kita lihat bahwa pembentukan pertumbuhan ekonomi itu 50 persen dari daya beli masyarakat,” ujar Ibrahim.





