KabarDermayu.com – Istana Kepresidenan, melalui Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) RI, Prasetyo Hadi, menyatakan bahwa pemerintah terus memantau dinamika pasar keuangan global yang berdampak pada pergerakan nilai tukar rupiah.
Pemerintah, dalam hal ini Kementerian Keuangan, Bank Indonesia, dan Otoritas Jasa Keuangan, berkoordinasi secara intensif untuk memonitor situasi dan mengambil langkah-langkah yang diperlukan.
Meskipun rupiah mengalami tekanan, pemerintah meyakini bahwa fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat. Hal ini tercermin dari pertumbuhan ekonomi yang terjaga dan inflasi yang terkendali.
Prasetyo Hadi menjelaskan bahwa keyakinan ini didasarkan pada gambaran pertumbuhan ekonomi yang stabil. Ia menambahkan bahwa inflasi yang masih terkendali turut memperkuat fundamental ekonomi Indonesia.
Rupiah memang sempat menyentuh level Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS) pada Kamis pagi, 4 Juni 2026. Pelemahan ini terjadi di tengah dominasi dolar AS di pasar global dan meningkatnya kekhawatiran investor terhadap berbagai risiko eksternal.
Level Rp18.000 per dolar AS menjadi perhatian serius pelaku pasar karena menandakan tekanan yang semakin besar terhadap mata uang rupiah.
Sebelumnya, pada Rabu, 3 Juni 2026, rupiah ditutup melemah 127,5 poin atau 0,71 persen ke level Rp17.966 per dolar AS.
Menanggapi pelemahan tersebut, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan bahwa pemerintah siap meningkatkan koordinasi dengan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) jika diperlukan untuk menjaga stabilitas pasar keuangan.
Namun, Purbaya menegaskan bahwa kewenangan utama dalam menjaga stabilitas nilai tukar tetap berada di tangan Bank Indonesia.
Ia menekankan bahwa menjaga nilai tukar merupakan yurisdiksi bank sentral. Pemerintah akan terus mengadakan pertemuan rutin seperti biasa.
Purbaya juga menampik isu yang beredar bahwa pemerintah meminta perbankan untuk melakukan stress test jika rupiah menembus level Rp18.000 per dolar AS.
Menurutnya, pelemahan rupiah dalam beberapa hari terakhir tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi fundamental ekonomi Indonesia yang sebenarnya.
Ia menilai berbagai isu dan spekulasi yang beredar di pasar turut memperburuk sentimen terhadap mata uang Garuda.
Purbaya menyebutkan bahwa pelemahan rupiah yang terjadi secara tiba-tiba dalam satu atau dua hari terakhir disebabkan oleh berbagai isu yang beredar di pasar.
Pemerintah, lanjutnya, tidak pernah memerintahkan bank untuk melakukan stress test terkait pelemahan rupiah tersebut.
Banyak isu di pasar yang menciptakan sentimen negatif terhadap rupiah, sehingga perlu diluruskan agar tidak semakin memperkeruh suasana.
Kondisi fundamental ekonomi Indonesia yang kuat ditopang oleh berbagai indikator positif.
Pertumbuhan ekonomi Indonesia diproyeksikan tetap stabil, didukung oleh konsumsi domestik yang kuat dan investasi yang terus meningkat.
Selain itu, kebijakan fiskal yang prudent dan pengelolaan utang yang hati-hati juga menjadi faktor pendukung stabilitas ekonomi.
Bank Indonesia juga terus berupaya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah melalui berbagai instrumen kebijakan moneter dan intervensi di pasar valuta asing.
Langkah-langkah ini diharapkan dapat meredam volatilitas dan menjaga kepercayaan investor terhadap pasar keuangan Indonesia.
Pemerintah dan Bank Indonesia berkomitmen untuk terus bersinergi dalam menjaga stabilitas ekonomi makro dan sistem keuangan.
Fokus utama tetap pada penguatan fundamental ekonomi agar Indonesia mampu menghadapi tantangan global dengan lebih tangguh.
Dengan fundamental ekonomi yang kuat dan koordinasi yang erat antarlembaga, pemerintah optimis rupiah akan kembali menguat dan stabilitas pasar keuangan dapat terjaga.
Masyarakat diharapkan untuk tetap tenang dan tidak terpengaruh oleh isu-isu yang tidak berdasar yang dapat menimbulkan kepanikan di pasar.
Pemerintah akan terus memberikan informasi yang akurat dan transparan mengenai kondisi ekonomi Indonesia.





