Gempa M7,7 Filipina: 1 Tewas Tertimpa Bangunan Roboh, 4 Luka

oleh -5 Dilihat
Gempa M7,7 Filipina: 1 Tewas Tertimpa Bangunan Roboh, 4 Luka

KabarDermayu.com – Gempa bumi dahsyat dengan magnitudo 7,7 mengguncang wilayah Filipina pada Senin pagi, 8 Juni 2026. Peristiwa alam ini dilaporkan telah memakan korban jiwa, di mana satu orang meninggal dunia akibat tertimpa bangunan yang runtuh. Selain itu, empat orang lainnya dilaporkan mengalami luka-luka.

Otoritas setempat masih terus berupaya melakukan proses evakuasi dan pendataan terhadap bangunan serta wilayah yang terdampak oleh guncangan gempa. Informasi mengenai korban dan kerusakan ini disampaikan oleh Sersan Mayor Robert Dagon dari Kepolisian Kota General Santos, Filipina.

Menurut Dagon, gempa yang melanda kawasan Mindanao tersebut telah menyebabkan kerusakan pada sejumlah bangunan dan juga permukiman warga. Tim penyelamat masih bekerja keras di lapangan untuk mengevakuasi para korban dan memeriksa kemungkinan adanya warga lain yang terdampak.

Hingga berita ini diturunkan, pihak kepolisian belum dapat memberikan data pasti mengenai jumlah keseluruhan bangunan yang mengalami kerusakan. Fokus utama saat ini adalah pada operasi penyelamatan korban.

“Banyak bangunan yang terkena dampak, tetapi saya tidak dapat menyebutkannya sekarang karena kami sedang sibuk dengan operasi penyelamatan yang sedang berlangsung,” ujar Robert Dagon.

Ia menambahkan bahwa beberapa bangunan dilaporkan runtuh akibat gempa yang sangat kuat. Tidak hanya bangunan publik, sejumlah rumah warga juga dilaporkan mengalami kerusakan parah hingga ambruk.

“Sejumlah bangunan runtuh. Beberapa rumah juga ambruk,” jelasnya.

Korban jiwa dilaporkan meninggal dunia setelah tertimpa material bangunan yang roboh saat gempa terjadi. Sementara itu, empat korban luka mengalami cedera akibat dampak runtuhan serta kondisi darurat yang timbul pasca-guncangan.

Gempa dengan kekuatan magnitudo 7,7 ini terjadi pada Senin pagi, sekitar pukul 06.37 WIB. Berdasarkan data yang dirilis oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), pusat gempa berlokasi di Laut Sulawesi, tepatnya di sektor Mindanao, Filipina.

Episentrum gempa terletak di sebelah barat laut Pulau Karatung, Sulawesi Utara, dengan kedalaman sekitar 47 kilometer. BMKG mengklasifikasikan gempa ini sebagai gempa dangkal yang dipicu oleh aktivitas subduksi lempeng tektonik.

Analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempa terjadi akibat pergerakan sesar naik atau thrust fault. Sesar jenis ini diketahui memiliki potensi untuk memicu terjadinya tsunami.

Kekuatan gempa yang besar ini membuat getarannya dirasakan hingga ke sejumlah wilayah lain, bahkan memicu kewaspadaan di negara-negara sekitar kawasan Laut Sulawesi.

Jepang dan Indonesia Sempat Keluarkan Peringatan Tsunami

Menyusul gempa besar yang terjadi, sejumlah negara segera mengaktifkan sistem peringatan dini tsunami sebagai langkah antisipasi. Hal ini dilakukan mengingat potensi dampak dari gempa yang berpusat di wilayah tersebut.

Di Indonesia, BMKG mengeluarkan peringatan dini tsunami kurang dari 10 menit setelah gempa terjadi. Langkah cepat ini diambil mengingat karakteristik gempa yang memiliki potensi memicu perubahan muka air laut.

Perkembangan terkini menunjukkan bahwa gelombang tsunami memang telah terdeteksi di beberapa wilayah Indonesia. Meskipun demikian, ketinggian gelombang yang terdeteksi masih dalam kategori kecil.

BMKG Deteksi Gelombang Tsunami di Indonesia

Deputi Bidang Geofisika BMKG, Nelly Florida Riama, mengungkapkan bahwa gelombang tsunami dengan ketinggian antara 9 hingga 18 sentimeter telah tercatat di tiga titik pengamatan. Tiga wilayah yang mendeteksi anomali muka air laut tersebut adalah Ulu Siau dan Melonguane di Sulawesi Utara, serta satu titik pemantauan di wilayah Maluku Utara.

Meskipun tinggi gelombang yang tercatat masih tergolong minor, BMKG mengimbau masyarakat yang berada di wilayah pesisir untuk tidak mengurangi kewaspadaan. Berdasarkan hasil pemodelan yang dilakukan oleh BMKG, beberapa wilayah pesisir masih memiliki potensi mengalami kenaikan muka air laut dengan status Siaga hingga Awas.

Oleh karena itu, masyarakat diminta untuk terus memantau informasi resmi yang dikeluarkan oleh BMKG dan mengikuti arahan evakuasi yang diberikan oleh pemerintah daerah maupun petugas terkait. “Kami meminta seluruh masyarakat untuk terus memantau atau mengikuti informasi yang diberikan oleh BMKG karena menurut pemodelan, ada beberapa wilayah yang dari sisi pemodelan akan siaga, tinggi tsunaminya berkisar antara Siaga dan juga Awas,” kata Nelly.

Saat ini, BMKG bersama dengan instansi terkait terus melakukan pemantauan secara real time. Pemantauan dilakukan melalui jaringan tide gauge dan berbagai sensor pemantau tsunami lainnya untuk memastikan kondisi wilayah pesisir tetap aman.

Sementara itu, otoritas di Filipina masih melanjutkan operasi penyelamatan dan pendataan dampak kerusakan akibat gempa M7,7 yang telah menelan korban jiwa tersebut. Jumlah korban jiwa maupun bangunan yang terdampak masih berpotensi bertambah seiring dengan proses evakuasi yang terus berlangsung di sejumlah wilayah Mindanao.