Emas 74 Kg Sitaan di Sentul Ternyata Lebih Berat dari Emas di Puncak Monas

oleh -8 Dilihat
Emas 74 Kg Sitaan di Sentul Ternyata Lebih Berat dari Emas di Puncak Monas

KabarDermayu.com – Emas seberat 74 kilogram mendadak menjadi topik hangat di berbagai platform media sosial, termasuk X (sebelumnya Twitter), sejak Kamis, 19 Juli 2026. Perbincangan ini mencuat menyusul penggeledahan yang dilakukan oleh penyidik gabungan dari Korps Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (Kortastipidkor) Polri dan Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Metro Jaya.

Penggeledahan tersebut terkait dengan dugaan tiga kasus korupsi dan berlangsung di sebuah rumah di kawasan Sentul, Bogor, Jawa Barat. Di lokasi inilah, penyidik menemukan emas batangan seberat 74 kilogram yang tersimpan di dalam sebuah brankas terkunci.

Selain emas, brankas tersebut juga berisi sejumlah mata uang asing dan rupiah. Kakortastipidkor Polri, Irjen Pol Totok Suharyanto, mengungkapkan kepada awak media pada Kamis dini hari, 9 Juli 2026, bahwa brankas yang terkunci itu berisi tujuh koper. “Setelah dibuka berisi tujuh koper yang pertama 74 kg emas batangan. Kemudian 4.767.300 USD, kemudian 14.083.800 SGD. Kemudian Rp 100 juta,” jelasnya.

Jumlah emas seberat 74 kg yang disita ini ternyata melampaui total emas yang menghiasi puncak Monumen Nasional (Monas). Berdasarkan informasi dari situs resmi Pegadaian, total emas yang ada di Monas mencapai 72 kg.

Rincian emas di Monas adalah 50 kg melapisi lidah api di puncak, sementara 22 kg lainnya berada di Ruang Kemerdekaan. Di Ruang Kemerdekaan, emas tersebut menghiasi Pintu Gapura Kemerdekaan, lambang Burung Garuda Pancasila, dan peta Kepulauan Indonesia. Emas ini disimpan dalam kotak kaca yang juga menjadi tempat penyimpanan salinan naskah Proklamasi, dihiasi ornamen bunga Wijaya Kusuma.

Menariknya, emas yang digunakan untuk Monas berasal dari Desa Lebong Tandai, Kecamatan Napal Putih, Kabupaten Bengkulu Utara, Bengkulu, yang memang dikenal sebagai daerah tambang emas. Meskipun demikian, penyumbang emas terbesar untuk Monas justru seorang pengusaha asal Aceh bernama Teuku Markam.

Teuku Markam, yang diperkirakan lahir sekitar tahun 1925, merupakan keturunan Uleebalang (Kepala Daerah dalam Kesultanan Aceh). Beliau dilaporkan menyumbangkan sekitar 28 kg emas untuk Monas. Kini, penemuan emas 74 kg di Sentul kembali memunculkan pertanyaan mengenai asal-usulnya.

Selain emas 74 kg dan uang tunai, penyidik juga mengamankan sejumlah dokumen, telepon genggam, serta foto keluarga dari rumah di kawasan Sentul tersebut. Barang-barang ini diduga berkaitan dengan pemilik rumah atau aset yang tersimpan di dalam brankas.

Hingga kini, polisi belum merilis identitas pemilik rumah maupun pihak yang diduga memiliki aset bernilai ratusan miliar rupiah tersebut. Penyelidikan gabungan yang dilakukan Kortastipidkor Polri bersama Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Metro Jaya dalam sejumlah perkara dugaan korupsi terus berlanjut dan berkembang.

Sebelumnya, penyidik telah melakukan penggeledahan di Cafe de’CLAN Signature dan Koin Money Changer di kawasan Cipete, Jakarta Selatan. Kini, polisi mengonfirmasi bahwa total ada 12 lokasi yang menjadi sasaran penggeledahan dalam kasus ini.