Gubernur BI Disemprot DPR: Dolar AS Rp17.600, Dikatakan Stabil?

oleh -5 Dilihat
Gubernur BI Disemprot DPR: Dolar AS Rp17.600, Dikatakan Stabil?

KabarDermayu.com – Anggota Komisi XI DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, Harris Turino, melontarkan kritik tajam kepada Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo. Kritikan ini terkait pernyataan Perry yang berulang kali menyebut nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) masih dalam kondisi stabil, padahal rupiah terus mengalami pelemahan.

Harris merasa geram dengan klaim stabilitas tersebut. Ia menyoroti fakta bahwa pada perdagangan hari itu, nilai tukar rupiah bahkan sempat menyentuh angka Rp17.672 per dolar AS. Situasi ini semakin diperparah dengan munculnya ejekan di tengah masyarakat.

Ejekan tersebut bahkan mengaitkan pelemahan rupiah dengan tanggal kemerdekaan Indonesia. Muncul anggapan bahwa jika rupiah menyentuh angka Rp17.845 per dolar AS, maka akan menyerupai tanggal 17 Agustus 1945.

Pernyataan Harris ini disampaikan dalam forum rapat kerja Komisi XI DPR RI bersama Bank Indonesia. Rapat tersebut diselenggarakan di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat, pada hari Senin, 18 Mei 2026.

“Kita tahu bahwa tadi teman-teman mengatakan kursnya sudah Rp17.600. Bahkan muncul ejekan kalau Rp17.845 maka itu Indonesia Merdeka, 17 8 45. Nah, tetapi Bapak (Perry Warjiyo) mengatakan rupiah stabil, relatif stabil, kalau dibandingkan negara lain,” ujar Harris dengan nada prihatin.

Harris kemudian merinci berbagai langkah yang telah diambil oleh Bank Indonesia untuk menstabilkan nilai tukar rupiah. Ia menyoroti intervensi pasar uang yang dilakukan oleh BI, yang menurutnya telah menggerus cadangan devisa negara.

“Intervensi di pasar uang ini telah menggerus cadangan devisa (cadev) dari US$156 miliar menjadi US$146 miliar,” jelas Harris.

Selain itu, Harris juga menyinggung kenaikan imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) yang diterbitkan oleh BI, yaitu SRBI. Ia menyebutkan bahwa yield SRBI telah naik hingga 6,41 persen. Langkah lainnya yang disorot adalah pembelian Surat Berharga Negara (SBN) oleh BI senilai Rp332 triliun sepanjang tahun 2025, ditambah lagi Rp133 triliun.

Baca juga: AKP Yohanes, Mantan Kasat Narkoba Kukar, Menjadi Tersangka Terkait Pengiriman Vape Narkotika

Tak ketinggalan, Harris juga mengkritisi kebijakan pengetatan pembelian dolar AS yang juga diterapkan oleh BI. Ia melihat berbagai instrumen telah dimaksimalkan oleh otoritas moneter.

“Pertanyaan kritisnya adalah, semua instrumen yang dimiliki BI sudah dilakukan, tetapi kenapa rupiah masih terus mengalami depresiasi?” tanyanya dengan tegas.

Menurut pandangan Harris, pelemahan nilai tukar rupiah saat ini tidak hanya disebabkan oleh faktor eksternal. Ia berpendapat bahwa ada berbagai persoalan domestik yang turut berkontribusi signifikan terhadap kondisi tersebut.

Ia mengidentifikasi beberapa masalah serius di dalam negeri. “Harus diakui juga ada masalah serius di domestik. Ada masalah fiskal, ada masalah defisit current account,” ungkapnya.

Selain itu, Harris juga menyoroti adanya arus modal keluar (capital outflow) dalam jumlah yang sangat besar. Hal ini tentu saja memberikan tekanan tambahan pada nilai tukar rupiah.

Lebih lanjut, Harris menekankan pentingnya kepercayaan investor terhadap perekonomian Indonesia. Ia menilai bahwa adanya masalah kepercayaan investor juga menjadi salah satu faktor krusial yang menyebabkan rupiah terus melemah.

“Ada arus modal keluar dalam jumlah besar, dan ada masalah kepercayaan investor terhadap perekonomian Indonesia,” pungkas Harris, menutup kritiknya.