Harga Minyak Dunia Meroket Akibat Serangan Baru AS ke Iran

oleh -3 Dilihat
Harga Minyak Dunia Meroket Akibat Serangan Baru AS ke Iran

KabarDermayu.com – Harga minyak dunia kembali mengalami lonjakan signifikan setelah munculnya laporan mengenai serangan terbaru yang dilancarkan oleh Amerika Serikat (AS) terhadap target militer di Iran. Kejadian ini secara langsung memicu kekhawatiran baru di pasar energi global, terutama terkait potensi gangguan pasokan.

Ketegangan geopolitik yang kembali memanas di kawasan Timur Tengah membuat para pelaku pasar merasa cemas akan ketersediaan minyak mentah dunia. Kekhawatiran ini semakin diperparah dengan potensi terganggunya jalur distribusi utama melalui Selat Hormuz.

Dalam perdagangan awal sesi Asia pada Kamis, harga minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) tercatat naik sebesar 2,06 persen. Kenaikan ini membawa harganya mencapai US$90,51 per barel, atau setara dengan sekitar Rp1,59 juta, dengan menggunakan asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah sebesar Rp17.600.

Sementara itu, minyak mentah Brent juga menunjukkan tren kenaikan yang serupa. Harganya melonjak 2,17 persen, mencapai level US$96,34 per barel, yang setara dengan sekitar Rp1,69 juta.

Peningkatan harga yang terjadi kali ini merupakan pembalikan arah setelah kedua acuan harga minyak dunia tersebut sempat mengalami penurunan drastis, bahkan anjlok lebih dari 7 persen sepanjang pekan ini. Penurunan sebelumnya dipicu oleh optimisme pasar yang melihat adanya peluang tercapainya kesepakatan damai.

Kesepakatan damai tersebut diharapkan dapat memulihkan kelancaran lalu lintas pelayaran kapal di Selat Hormuz, yang merupakan jalur vital bagi distribusi minyak global. Namun, harapan ini kini kembali memudar.

Baca juga: Sadiq Khan Berharap Jutaan Jemaah Haji Mabrur

Kondisi tersebut berubah setelah beredar laporan bahwa militer Amerika Serikat telah melakukan serangan di wilayah selatan Iran. Dalam operasi tersebut, dilaporkan empat drone serang milik Iran berhasil ditembak jatuh.

Seorang pejabat dari Komando Pusat AS memberikan pernyataan bahwa tindakan yang diambil bersifat defensif. Menurutnya, stasiun pengendali drone yang menjadi sasaran serangan tersebut diketahui akan meluncurkan drone kelima.

Ketegangan semakin meningkat setelah Presiden AS, Donald Trump, memberikan sinyal bahwa pemerintahannya tidak terburu-buru untuk mencapai kesepakatan dengan Iran. Trump menyatakan bahwa kesepakatan bisa saja dicapai saat ini.

Namun, ia menekankan bahwa pemerintah AS hanya ingin menyetujui perjanjian yang benar-benar menguntungkan bagi negara tersebut. “Jika itu bukan kesepakatan yang hebat, kami tidak akan melakukannya,” ujar Trump, seperti dikutip dari situs Oil Price pada Kamis, 28 Mei 2026.

Dalam kesempatan yang sama, Trump juga secara tegas menyatakan bahwa Amerika Serikat tidak sedang dalam pembahasan untuk melonggarkan sanksi atau memberikan dana kepada Iran. Ia juga melontarkan ancaman serius terhadap Iran apabila negara tersebut tidak memenuhi syarat-syarat yang diajukan oleh Washington.

Sebelumnya, para pelaku pasar minyak sempat menunjukkan optimisme. Hal ini dipicu oleh adanya sinyal dari media Iran yang mengindikasikan kemungkinan perpanjangan gencatan senjata dan adanya pembahasan mengenai pencabutan sanksi.

Selain itu, terdapat pula harapan mengenai pelepasan aset Iran yang sebelumnya dibekukan. Namun, komentar terbaru dari Trump dan adanya perpecahan politik di internal Iran dinilai semakin mempersulit peluang tercapainya kesepakatan damai dalam waktu dekat.

Laporan lain juga menyebutkan bahwa kelompok garis keras di Iran kini secara terbuka melancarkan kritik terhadap tim negosiator yang dianggap mempertimbangkan kompromi dengan Amerika Serikat. Kelompok ini dikabarkan menginginkan Iran tetap memegang kendali penuh atas Selat Hormuz.

Mereka juga menolak adanya konsesi terkait program pengayaan uranium. Selain faktor geopolitik yang memicu ketegangan, kenaikan harga minyak dunia juga didorong oleh data persediaan minyak mentah Amerika Serikat yang dilaporkan terus mengalami penurunan.

Lembaga American Petroleum Institute melaporkan bahwa stok minyak mentah AS mengalami penurunan sebesar 2,8 juta barel pada pekan lalu. Penurunan ini menandai enam minggu berturut-turut persediaan minyak mentah AS terus berkurang.

Kondisi ini secara jelas menunjukkan bahwa pasokan fisik minyak global masih berada di bawah tekanan. Meskipun pembicaraan damai antara Amerika Serikat dan Iran masih terus berlangsung, pasar menilai risiko lonjakan harga minyak akan tetap tinggi.

Situasi ini diperkirakan akan terus berlanjut hingga tercapainya kesepakatan permanen dan solusi jangka panjang yang dapat menjamin keamanan distribusi energi, khususnya di jalur Selat Hormuz yang sangat krusial.