Militer AS Serang Iran Selatan, Sebut Aksi Bela Diri

oleh -7 Dilihat
Militer AS Serang Iran Selatan, Sebut Aksi Bela Diri

KabarDermayu.com – Militer Amerika Serikat (AS) mengumumkan telah melancarkan serangan terhadap situs peluncuran rudal di Iran bagian selatan. Selain itu, kapal-kapal yang diduga digunakan untuk memasang ranjau laut juga menjadi sasaran dalam operasi yang diklaim sebagai tindakan membela diri ini. Serangan ini terjadi pada hari Senin, 25 Mei 2026.

Juru bicara Komando Pusat AS, Tim Hawkins, menyatakan dalam sebuah pernyataan bahwa pasukan AS melakukan serangan pertahanan diri di Iran selatan. Tindakan ini diambil untuk melindungi personel mereka dari ancaman yang ditimbulkan oleh pasukan Iran. Pernyataan tersebut tidak merinci lebih lanjut mengenai jenis serangan yang dilancarkan.

Baca juga: PGN Raup Laba US$215,36 Juta di 2025, Tebar Dividen Rp 3,04 T

Namun, disebutkan bahwa sasaran serangan meliputi situs peluncuran rudal dan kapal-kapal yang diduga berupaya memasang ranjau laut. Informasi ini disampaikan kepada publik pada hari Selasa, 26 Mei 2026, mengutip laporan dari CNA.

Sebelumnya, media-media Iran melaporkan adanya suara ledakan yang terdengar di kota pelabuhan Bandar Abbas. Wilayah sekitar Sirik dan Jask, yang terletak di pesisir Teluk, juga dilaporkan mengalami hal serupa. Kantor berita semi-resmi Fars memberitakan bahwa sejumlah warga Bandar Abbas mendengar beberapa kali ledakan.

Namun, hingga berita ini diturunkan, sumber pasti dan lokasi spesifik dari ledakan tersebut belum dapat dikonfirmasi. Fars juga melaporkan bahwa suara ledakan yang mirip terdengar hampir bersamaan di wilayah sekitar Sirik dan Jask, yang berhadapan langsung dengan kawasan Teluk.

Serangan yang dilancarkan oleh AS ini menimbulkan kekhawatiran baru terhadap gencatan senjata yang sebenarnya masih rapuh. Gencatan senjata tersebut mulai berlaku pada tanggal 8 April. Saat itu, Amerika Serikat dan Iran sedang berupaya keras untuk mencapai kesepakatan damai yang diharapkan dapat mengakhiri perang.

Perang yang berkepanjangan ini telah memberikan guncangan signifikan terhadap perekonomian global. Gangguan pada aliran energi menjadi salah satu dampak paling parah yang dirasakan oleh pasar dunia.