Rupiah Melemah Rp 17.785: Khawatir Fiskal RI & Ekspor DSI

oleh -7 Dilihat
Rupiah Melemah Rp 17.785: Khawatir Fiskal RI & Ekspor DSI

KabarDermayu.com – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diprediksi masih akan bergerak fluktuatif, namun ditutup melemah pada perdagangan hari ini.

Berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate atau Jisdor BI, kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat berada di level Rp 17.743 pada Senin, 25 Mei 2026. Posisi rupiah itu melemah 26 poin dari kurs sebelumnya di level 17.717 pada perdagangan Jumat, 22 Mei 2026.

Sementara perdagangan di pasar spot pada Selasa, 26 Mei 2026 hingga pukul 09.46 WIB rupiah ditransaksikan di Rp 17.785 per dolar AS. Posisi itu melemah 42 poin atau 0,23 persen dari posisi sebelumnya di level Rp 17.743 per dolar AS.

Pengamat ekonomi dan pasar uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan, rupiah diperkirakan masih akan melemah dipengaruhi sentimen domestik maupun global, yang dinilai belum sepenuhnya kondusif bagi pasar keuangan Indonesia.

Dari sisi domestik, Ibrahim menilai isu defisit anggaran masih menjadi perhatian utama pelaku pasar. Menurutnya, meskipun harga minyak dunia mengalami penurunan, hal tersebut belum mampu mendorong sentimen positif terhadap rupiah.

Ibrahim mengatakan, permasalahan defisit anggaran jadi momok bagi pasar. Walaupun harga minyak mengalami penurunan, rupanya hal itu masih belum bisa mengangkat sentimen positif terhadap mata uang rupiah.

Dia juga menyoroti kondisi mata uang negara-negara kawasan yang justru bergerak menguat, sementara rupiah masih berada di zona merah.

“Kita lihat mata uang negara tetangga semua menghijau tapi Indonesia memerah,” kata Ibrahim dalam riset hariannya, Selasa, 26 Mei 2026.

Selain itu, pidato Presiden Prabowo Subianto terkait kebijakan ekspor komoditas melalui satu pintu (DSI), juga menimbulkan kekhawatiran di kalangan investor global. Menurutnya, kebijakan itu berpotensi memicu penilaian negatif dari lembaga pemeringkat internasional.

Selain itu, lanjut Ibrahim, pidato Presiden Prabowo mengenai masalah ekspor untuk komoditas satu pintu melalui Danantara, juga membuat banyak kecaman terhadap pemeringkat internasional. Kemungkinan besar lembaga seperti S&P Global dan lain-lainnya akan menurunkan rating utang pemerintah Indonesia.

Sejumlah kebijakan pemerintah yang dianggap kurang ramah terhadap pasar menjadi faktor tambahan yang menekan pergerakan rupiah.

“Mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp 17.740—Rp 17.800,” ujarnya.

Sebagai informasi, dari sisi eksternal, Ibrahim melihat terdapat sentimen positif maupun negatif yang memengaruhi pergerakan rupiah.

Salah satu sentimen positif datang dari optimisme pasar terhadap peluang tercapainya kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran.

Pasar memandang hubungan kedua negara mulai menunjukkan perkembangan positif meskipun masih terdapat sejumlah isu krusial yang belum terselesaikan, termasuk terkait Selat Hormuz.

Baca juga: Pasar Murah Disperindag Jabar Sediakan Kebutuhan Pokok Terjangkau Jelang Idul Adha

“Yang positifnya itu adalah pasar optimistis bahwa Amerika Serikat dan Iran semakin mendekati kesepakatan perdamaian. Walaupun masih ada perselisihan mengenai isu-isu kunci tentang Selat Hormuz,” ucapnya.

Danantara Sumber Daya Indonesia Sudah Jadi BUMN, Negara Punya 1 Persen Saham
Pemerintah diketahui, membentuk PT DSI sebagai perusahaan BUMNdengan penugasan khusus untuk mengelola dan mengawasi transaksi ekspor komoditas sumber daya alam strategis.

VIVA.co.id
26 Mei 2026