Harga Pertamax Rp16.250, MPR Ungkap Penyebab Gejolak Global

oleh -1 Dilihat
Harga Pertamax Rp16.250, MPR Ungkap Penyebab Gejolak Global

KabarDermayu.com – Harga Bahan Bakar Minyak (BBM) nonsubsidi jenis Pertamax mengalami lonjakan signifikan, dari Rp12.300 menjadi Rp17.000 per liter. Wakil Ketua MPR RI, Eddy Soeparno, menjelaskan bahwa kenaikan ini sangat terkait dengan gejolak harga minyak mentah dunia yang terus meningkat dalam beberapa bulan terakhir.

Eddy Soeparno menggarisbawahi bahwa Pertamax tidak termasuk dalam kategori BBM bersubsidi. Oleh karena itu, mekanisme penetapan harganya berbeda dengan BBM yang mendapat dukungan pemerintah.

Karena Pertamax tidak dikategorikan sebagai Jenis BBM Tertentu (JBT) maupun Jenis BBM Khusus Penugasan (JBKP), harganya akan mengikuti pergerakan pasar energi global.

Harga Pertamax Mengikuti Pergerakan Minyak Dunia

Menurut Eddy, fluktuasi harga Pertamax sangat bergantung pada harga minyak mentah internasional.

“Berhubung jenis BBM Pertamax bukan merupakan bagian dari JBT atau JBKP, tentunya tidak mendapatkan subsidi pemerintah, sehingga harganya akan naik-turun sesuai harga minyak mentah dunia,” jelasnya dalam keterangan pers di Jakarta, Sabtu, 13 Juni 2026.

Ia menambahkan bahwa dalam beberapa bulan terakhir, harga minyak mentah dunia berada di kisaran 80 hingga 100 dolar Amerika Serikat per barel. Kondisi ini menjadi salah satu pemicu utama kenaikan harga BBM nonsubsidi di dalam negeri.

Tekanan terhadap harga minyak global, menurut Eddy, tidak hanya disebabkan oleh tingginya permintaan energi, tetapi juga oleh ketidakseimbangan antara pasokan dan kebutuhan di pasar dunia.

Penutupan Selat Hormuz Picu Kekhawatiran Baru

Situasi pasar energi global berpotensi semakin bergejolak setelah Iran secara resmi menutup total Selat Hormuz untuk aktivitas pelayaran.

Selat Hormuz merupakan jalur distribusi minyak yang sangat strategis di dunia. Gangguan pada jalur ini dapat memengaruhi pasokan minyak global dan memicu kenaikan harga energi internasional.

Dengan kondisi tersebut, harga minyak mentah diperkirakan masih memiliki potensi untuk terus meningkat.

“Harga tersebut bisa lebih tinggi karena adanya ketidakseimbangan antara permintaan dan pasokan. Kondisi ini bahkan diproyeksikan akan bergerak naik lagi,” ungkap Eddy.

Daya Beli Masyarakat Berpotensi Terpengaruh

Eddy mengakui bahwa kenaikan harga Pertamax akan berdampak pada masyarakat dan pelaku usaha.

Biaya transportasi dan operasional usaha diperkirakan akan meningkat seiring dengan kenaikan harga BBM. Namun, ia mengingatkan bahwa kondisi serupa sebenarnya telah lebih dulu dirasakan ketika beberapa BBM nonsubsidi lainnya mengalami penyesuaian harga.

Beberapa produk yang sebelumnya telah mengalami kenaikan harga meliputi:

  • Pertamax Turbo
  • Pertamina Dex
  • Dexlite

Meskipun demikian, Eddy meyakini bahwa dampak kenaikan biaya operasional tersebut tidak akan secara signifikan memengaruhi harga jual produk akhir yang beredar di masyarakat.

Ia berharap pemerintah dapat memberikan dukungan kepada dunia usaha melalui berbagai instrumen kebijakan agar aktivitas ekonomi tetap berjalan lancar.

MPR Dorong Insentif untuk Dunia Usaha

Sebagai anggota Komisi XII DPR RI yang membidangi sektor energi dan sumber daya mineral, Eddy menekankan pentingnya dukungan pemerintah dalam menjaga stabilitas dunia usaha di tengah kenaikan biaya energi.

Menurutnya, insentif yang diberikan tidak harus berupa subsidi langsung, melainkan bisa berupa kebijakan fiskal maupun nonfiskal yang membantu menjaga efisiensi operasional perusahaan.

“Harapan dunia usaha agar pemerintah dapat memberikan dukungan atau insentif di bidang lainnya, baik insentif fiskal maupun nonfiskal, dengan tujuan agar operasional dan kinerja dunia usaha tetap terjaga,” ujarnya.

Pemerintah Diminta Waspadai Migrasi Konsumen

Selain dampak terhadap dunia usaha, Eddy juga menyoroti potensi perpindahan pengguna Pertamax ke BBM bersubsidi akibat selisih harga yang semakin lebar.

Ia berharap tidak terjadi migrasi besar-besaran konsumen Pertamax ke Pertalite, karena hal ini berpotensi meningkatkan tekanan terhadap kuota BBM bersubsidi yang telah ditetapkan pemerintah.

Menurut Eddy, pemerintah saat ini telah menerapkan mekanisme pengawasan yang cukup ketat dalam pembelian Pertalite sehingga penggunaannya tetap dapat diarahkan kepada kelompok masyarakat yang berhak menerima subsidi.

Harga Terbaru Pertamax dan Pertamax Green

Berdasarkan penyesuaian terbaru, harga BBM nonsubsidi mengalami kenaikan yang cukup signifikan.

Daftar harga terbaru meliputi:

  • Pertamax (RON 92): dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter
  • Pertamax Green (RON 95): dari Rp12.900 menjadi Rp17.000 per liter

Kenaikan ini merupakan bagian dari penyesuaian harga BBM nonsubsidi yang dilakukan mengikuti perkembangan harga energi global.

Pertamina Jelaskan Alasan Penyesuaian Harga

Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth MV Dumatubun, menjelaskan bahwa perubahan harga BBM nonsubsidi dilakukan sesuai dengan regulasi yang berlaku.

Menurutnya, kebijakan tersebut merupakan bagian dari tata kelola energi nasional yang bertujuan menjaga keseimbangan antara keberlangsungan bisnis perusahaan, kualitas pelayanan kepada masyarakat, serta kepastian pasokan energi di seluruh wilayah Indonesia.

Pertamina menegaskan bahwa penyesuaian harga dilakukan dengan mempertimbangkan berbagai faktor, termasuk dinamika harga minyak mentah dunia dan kondisi pasar energi internasional yang terus berubah. (Ant)