KabarDermayu.com – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan signifikan pada perdagangan Rabu, 3 Juni 2026. Menjelang akhir sesi II, sekitar pukul 13.30 WIB, IHSG terpantau anjlok 335 poin atau 5,41 persen, kembali menyentuh level 5.860.
Pengamat pasar modal, Elandry Pratama, menjelaskan bahwa pelemahan IHSG ini merupakan indikasi investor mengurangi eksposur pada aset berisiko. Dana mereka dialihkan ke instrumen investasi yang dianggap lebih aman.
Menurut Elandry, aksi ini merupakan respons investor terhadap kombinasi sentimen negatif yang datang dari pasar domestik maupun global. Tekanan jual terjadi secara merata, terutama pada saham-saham berkapitalisasi besar yang memiliki bobot signifikan terhadap pergerakan indeks.
Sentimen domestik yang membebani pasar antara lain pelemahan nilai tukar rupiah yang mendekati level Rp 18.000 per dolar Amerika Serikat. Hal ini memicu kekhawatiran investor mengenai stabilitas makroekonomi dan potensi arus keluar dana asing (capital outflow).
Baca juga: Catat! Operasi Patuh Jaya 2026 Dimulai 8 Juni, Pelanggaran Terlihat Langsung Ditilang
Selain itu, Elandry menambahkan bahwa penembusan level support secara teknikal turut mempercepat aksi jual di pasar saham. Dari sisi global, pelaku pasar merespons meningkatnya ketidakpastian ekonomi global. Sentimen risk-off mendorong pergeseran dana ke aset yang dipandang lebih aman.
Saat ini, investor asing cenderung mengambil sikap wait and see. Fokus utama mereka adalah stabilitas nilai tukar rupiah, arah kebijakan suku bunga global, serta prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia. Selama volatilitas rupiah masih tinggi, Elandry memprediksi arus dana asing akan tetap berhati-hati.
Meskipun demikian, Elandry melihat aksi ini lebih didominasi oleh pengurangan risiko jangka pendek, bukan perubahan pandangan fundamental terhadap pasar Indonesia secara keseluruhan. Ia memproyeksikan IHSG masih berpotensi bergerak volatil dalam jangka pendek, mengingat sentimen global dan pergerakan kurs rupiah masih menjadi faktor dominan.
Namun, setelah koreksi yang cukup dalam, peluang technical rebound tetap terbuka. Hal ini sangat bergantung pada meredanya tekanan jual dan stabilisasi arus dana asing. Elandry menyarankan investor untuk fokus pada saham-saham dengan fundamental kuat dan menerapkan manajemen risiko yang baik di tengah kondisi pasar yang masih sensitif terhadap sentimen eksternal.





