KabarDermayu.com – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terus mengalami pelemahan signifikan. Pada perdagangan Senin, 8 Juni 2026, pukul 11.15 WIB, IHSG tercatat anjlok 140 poin atau 2,50 persen, menyentuh level 5.453.
Pengamat ekonomi dan pasar uang, Ibrahim Assuaibi, memberikan peringatan keras mengenai potensi pelemahan IHSG lebih lanjut. Ia memprediksi IHSG bahkan bisa menyentuh level kritis 4.000 pada akhir Juni 2026.
“Untuk Indeks Harga Saham Gabungan, kemungkinan besar ini akan menuju level terkritis di 4.000 sampai akhir bulan Juni ini,” ujar Ibrahim dalam pesan suara yang diterima VIVA pada Senin, 8 Juni 2026.
Ibrahim menjelaskan bahwa salah satu faktor utama di balik tren penurunan IHSG ini adalah ketidakpastian terkait kemungkinan Morgan Stanley Capital International (MSCI) menurunkan peringkat saham-saham di pasar modal Indonesia dari emerging market menjadi frontier market.
“Walaupun kita tahu bahwa baru pertengahan Juni ini MSCI akan mengumumkan hal itu, tapi ini sudah membuat rupiah dan IHSG mengalami penurunan yang cukup signifikan,” tuturnya.
Selain itu, pelemahan nilai tukar rupiah yang terus berlanjut juga turut mendorong keluarnya arus modal asing dari bursa saham Tanah Air. Ibrahim mengakui bahwa tren pelemahan rupiah yang signifikan ini menjadi salah satu penyebab kaburnya investor.
“Kita harus tahu bahwa dalam perdagangan hari ini, arus keluar modal sangat besar di pasar modal karena merosotnya mata uang rupiah,” tegas Ibrahim.
Ia menambahkan bahwa berbagai upaya intervensi yang telah dilakukan oleh pemerintah, Kementerian Keuangan, Bank Indonesia (BI), hingga Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk mendongkrak nilai tukar rupiah dan IHSG belum menunjukkan hasil yang berarti.
Menurut pengamatannya, intervensi yang dilakukan oleh ketiga lembaga tersebut, termasuk upaya pemerintah melalui lelang obligasi, dapat dikatakan gagal total. Hal ini terbukti dari terus melemahnya nilai rupiah dan IHSG.
“Terus bagaimana tentang Bank Sentral, kemudian pemerintah dan OJK, apakah mereka terus melakukan intervensi? Oh iya! Mereka melakukan intervensi di pasar keuangan, bahkan pemerintah pun juga melakukan lelang obligasi,” papar Ibrahim.
“Tetapi rupanya lelang obligasi yang dilakukan oleh pemerintah gagal total. Inilah yang membuat IHSG kemudian rupiah terus mengalami pelemahan,” pungkasnya.





