KabarDermayu.com – Kaukus Perempuan Parlemen Republik Indonesia (KPPRI) telah menyelenggarakan Forum KPPRI 2026. Forum ini bertujuan menjadi wadah dialog nasional untuk memperkuat peran perempuan di parlemen dalam mendorong transformasi kebijakan yang lebih inklusif, responsif gender, dan berorientasi pada perlindungan masyarakat.
Tema yang diangkat dalam forum ini adalah “Perempuan di Parlemen: Dari Representasi menuju Transformasi Kebijakan”. Tema ini menekankan bahwa keterwakilan perempuan di parlemen seharusnya tidak hanya berhenti pada kuantitas atau formalitas politik semata.
Melainkan, keterwakilan tersebut harus benar-benar terwujud dalam kebijakan yang nyata, memberikan dampak positif, dan berpihak pada kepentingan seluruh rakyat. Perhatian khusus diberikan pada kelompok perempuan, anak-anak, keluarga, dan kelompok rentan lainnya.
Sekretaris Jenderal KPPRI, Sarifah Ainun Jariyah, menyatakan bahwa dunia saat ini tengah menghadapi berbagai tantangan global yang semakin kompleks. Tantangan tersebut meliputi konflik, krisis kemanusiaan, ketimpangan ekonomi yang kian melebar, serta ancaman kekerasan terhadap perempuan dan anak.
Selain itu, disrupsi sosial dan transformasi digital juga menjadi tantangan yang perlu dihadapi. Dalam situasi yang penuh gejolak ini, peran perempuan menjadi sangat strategis.
Perempuan memiliki kontribusi penting dalam upaya membangun perdamaian, memperkuat kohesi sosial di masyarakat, serta membawa perspektif kemanusiaan dalam setiap perumusan kebijakan publik.
Oleh karena itu, Sarifah menekankan bahwa perempuan parlemen memikul tanggung jawab yang sangat besar. Tanggung jawab ini mencakup memastikan fungsi legislasi, pengawasan, penganggaran, dan diplomasi parlementer berjalan efektif.
Tujuannya adalah untuk menghadirkan keadilan sosial dan perlindungan yang memadai bagi seluruh lapisan masyarakat.
Forum KPPRI 2026 ini juga menjadi momen penting untuk konsolidasi. Konsolidasi ini melibatkan berbagai lintas partai, lintas lembaga, dan bahkan lintas negara.
Tujuannya adalah untuk memperkuat agenda-agenda yang berkaitan dengan pemberdayaan perempuan, baik dalam konteks pembangunan nasional Indonesia maupun dalam upaya mewujudkan perdamaian dunia.
Menurut Sarifah, kegiatan ini dihadiri oleh berbagai elemen penting. Pesertanya meliputi anggota perempuan parlemen, perwakilan dari kementerian dan lembaga negara, organisasi-organisasi perempuan, lembaga swadaya masyarakat (NGO), akademisi, organisasi internasional, hingga perwakilan dari kedutaan besar negara-negara sahabat.
Baca juga: KPR BTN untuk 5.400 Hunian TOD Baru Kolaborasi dengan KAI
Melalui forum ini, KPPRI ingin menegaskan beberapa komitmen kunci. Komitmen pertama adalah mendorong keterwakilan perempuan yang substantif, yang memiliki dampak nyata terhadap arah kebijakan negara.
Komitmen kedua adalah memperkuat kebijakan yang responsif gender. Kebijakan ini diharapkan mencakup berbagai sektor vital seperti pendidikan, kesehatan, ekonomi, perlindungan perempuan dan anak, demokrasi, hak asasi manusia, perdamaian, serta pembangunan berkelanjutan.
Komitmen ketiga adalah memperkuat diplomasi parlementer yang dilakukan oleh perempuan. Diplomasi ini diharapkan dapat berkontribusi pada agenda perdamaian dunia dan perlindungan kemanusiaan secara global.
Komitmen keempat adalah memperluas kolaborasi multipihak. Kolaborasi ini akan melibatkan parlemen, pemerintah, masyarakat sipil, organisasi internasional, media, dan komunitas global untuk bersama-sama memperkuat kepemimpinan perempuan.
Komitmen kelima adalah menjadikan KPPRI sebagai sebuah platform strategis. Platform ini akan berfungsi untuk memperkuat jejaring antar perempuan parlemen, baik di tingkat nasional maupun di kancah internasional.
“Kami percaya bahwa demokrasi yang sehat membutuhkan partisipasi perempuan yang bermakna dalam setiap proses pengambilan keputusan,” ujar Sarifah.
Ia menambahkan bahwa perempuan tidak boleh hanya diposisikan sebagai objek kebijakan semata. Sebaliknya, perempuan adalah subjek penting yang memiliki peran krusial dalam menentukan arah masa depan bangsa.
Lebih lanjut, Sarifah menyampaikan harapannya agar forum ini tidak sekadar menjadi sebuah kegiatan seremonial belaka. Forum ini diharapkan dapat menjadi ruang nyata untuk membangun komitmen bersama.
Selain itu, forum ini juga diharapkan mampu memperkuat solidaritas antar para pihak dan menghasilkan langkah-langkah konkret. Langkah-langkah ini akan diarahkan untuk mendorong transformasi kebijakan yang lebih adil dan inklusif bagi seluruh masyarakat.
Sarifah juga menyampaikan apresiasinya kepada seluruh pihak yang telah memberikan dukungan dan berpartisipasi dalam terselenggaranya kegiatan ini. Apresiasi disampaikan kepada pimpinan lembaga negara, kementerian, organisasi perempuan, organisasi internasional, kedutaan besar negara sahabat, akademisi, media, dan seluruh mitra strategis lainnya.





