KabarDermayu.com – Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan atau Zulhas, menargetkan 70 hingga 80 persen permasalahan sampah di Indonesia dapat terselesaikan pada tahun 2029.
Pencapaian target ini akan dilakukan melalui percepatan pembangunan fasilitas pengolahan sampah, pengelolaan kawasan yang terkelola dengan baik, serta dorongan gerakan pemilahan sampah dari tingkat rumah tangga.
Zulhas menekankan bahwa penyelesaian masalah sampah bukanlah tanggung jawab pemerintah semata. Ia mengemukakan bahwa kolaborasi antara pemerintah dalam menyediakan teknologi dan masyarakat dalam membangun kebiasaan memilah sampah dari rumah tangga sangat krusial untuk mewujudkan Indonesia yang lebih bersih, sehat, dan produktif.
Ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama melakukan reformasi dalam pengelolaan sampah secara paralel dengan upaya pemerintah.
Pemerintah berencana untuk mempercepat pembangunan fasilitas pengolahan sampah menjadi energi, yang dikenal sebagai Waste to Energy. Di sisi lain, masyarakat diharapkan dapat berkontribusi aktif dengan memilah sampah sejak dari rumah.
Dalam kesempatan tersebut, Zulhas memberikan apresiasi terhadap kinerja Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Ia menilai Pemprov DKI Jakarta telah menjadi pelopor yang nyata dalam penerapan pemilahan sampah dari sumbernya, dengan melibatkan berbagai lapisan masyarakat mulai dari tingkat RT, RW, hingga komunitas.
Menurut Zulhas, pembangunan fasilitas Waste to Energy merupakan langkah reformasi besar dalam pengelolaan sampah. Namun, ia menegaskan bahwa hal tersebut belum cukup. Reformasi ini harus berjalan seiring dengan gerakan masyarakat untuk memilah sampah di rumah.
Ia menambahkan bahwa sampah organik dapat diolah menjadi pupuk, sementara sampah anorganik memiliki potensi untuk didaur ulang dan menghasilkan nilai ekonomi.
Melalui Kementerian Koordinator Bidang Pangan, pemerintah terus mendorong percepatan pembangunan fasilitas Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL). Hal ini sejalan dengan mandat yang tertuang dalam Peraturan Presiden Nomor 109 Tahun 2025.
Saat ini, tercatat ada sekitar 30 lokasi PSEL yang direncanakan untuk dikembangkan dalam beberapa tahun mendatang. Pendekatan yang digunakan adalah berbasis kawasan perkotaan atau aglomerasi yang menghasilkan sampah dalam jumlah besar, yaitu di atas 1.000 ton per hari.
Dalam waktu dekat, tiga lokasi PSEL akan segera melaksanakan seremoni groundbreaking. Selanjutnya, terdapat 12 lokasi lain yang sedang dalam proses oleh Danantara Indonesia untuk memasuki tahap pemilihan mitra. Targetnya, fasilitas-fasilitas PSEL ini diharapkan sudah beroperasi pada tahun 2028.





