KabarDermayu.com – Koops TNI Habema dengan tegas membantah isu yang beredar mengenai penyerangan terhadap Gereja Stasi Santo Paulus Nabuni di Kabupaten Intan Jaya, Papua Tengah. Tuduhan tersebut dinilai sebagai narasi menyesatkan yang berpotensi memperkeruh situasi keamanan di wilayah tersebut.
Informasi yang tersebar luas di media sosial tersebut muncul di tengah proses investigasi yang masih berlangsung untuk menentukan penyebab pasti ledakan yang terjadi di sekitar lokasi gereja. Pihak Koops TNI Habema menekankan bahwa informasi tersebut tidak benar dan tidak berdasar.
Kepala Penerangan Koops TNI Habema, Letkol Infanteri M. Wirya Arthadiguna, menjelaskan bahwa granat yang ditemukan di lokasi kejadian bukan merupakan jenis granat standar yang digunakan oleh TNI. Ia menambahkan bahwa munculnya tuduhan tanpa dasar dapat memicu kesalahpahaman di tengah masyarakat.
“Kami menyesalkan adanya pemberitaan dan narasi di media sosial yang langsung menuduh TNI-Polri sebagai pelaku. Di sini kami tegaskan bahwa TNI bukan pelaku pengeboman tersebut,” ujar Wirya dalam keterangannya pada Sabtu, 23 Mei 2026.
Penjelasan ini disampaikan sebagai upaya klarifikasi atas berbagai informasi yang cepat berkembang di ruang digital. Dalam beberapa hari terakhir, narasi yang belum terverifikasi telah menyebar dan langsung mengaitkan aparat keamanan dengan insiden tersebut tanpa menunggu hasil penyelidikan resmi.
Menurut Wirya, TNI selama ini menjalankan pendekatan yang humanis dalam menjaga stabilitas keamanan di Papua. Perlindungan terhadap masyarakat sipil, termasuk rumah ibadah dan fasilitas umum, merupakan bagian utama dari setiap pelaksanaan tugas di lapangan.
Ia juga menegaskan bahwa TNI tidak pernah menggunakan drone bersenjata untuk menyerang warga sipil, terutama di area gereja yang seharusnya dijaga dan dihormati.
Baca juga: Rupiah Melemah: Sudirman Said Ajak Semua Pihak Bahu-membahu
“Kami mengimbau seluruh pihak untuk tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi yang berpotensi memprovokasi dan memperkeruh situasi keamanan di Intan Jaya,” tegasnya.
Di tengah berkembangnya berbagai spekulasi, aparat keamanan juga mengingatkan pentingnya menjaga ruang informasi agar tetap kondusif. Penyebaran kabar yang belum dipastikan kebenarannya dinilai dapat dimanfaatkan oleh pihak tertentu untuk membangun opini yang merugikan stabilitas daerah dan mengganggu hubungan antara aparat dengan masyarakat.
Situasi keamanan di Intan Jaya dilaporkan tetap terkendali. Aktivitas masyarakat berjalan normal, sementara aparat bersama pemerintah daerah terus berkoordinasi untuk memastikan kondisi tetap aman dan kondusif.
Sementara itu, Bupati Intan Jaya, Aner Maisini, menekankan bahwa keselamatan masyarakat sipil harus menjadi prioritas utama di tengah dinamika keamanan yang terjadi di wilayah tersebut. Ia mengingatkan agar seluruh pihak tidak melakukan tindakan yang dapat menimbulkan dampak lebih luas bagi warga.
“Penegakkan harus humanis, karena yang jadi korban itu masyarakat. Jangan sampai gereja, sarana pemerintah, atau masyarakat sipil yang terkena dampak,” pungkas Aner Maisini.
Pernyataan ini memperkuat ajakan agar masyarakat tidak mudah terpengaruh oleh informasi provokatif yang beredar tanpa bukti yang jelas. Klarifikasi dari aparat dan pemerintah daerah diharapkan dapat meredam spekulasi sekaligus menjaga situasi Papua Tengah tetap damai dan kondusif.





