Harga Minyak Tinggi: Pasar Tunggu Negosiasi AS-Iran

oleh -11 Dilihat
Harga Minyak Tinggi: Pasar Tunggu Negosiasi AS-Iran

KabarDermayu.com – Harga minyak dunia masih tertahan di level yang tinggi pada awal Juni 2026. Pasar global tengah menanti kepastian dari negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran, serta nasib jalur pelayaran strategis Selat Hormuz.

Para pelaku pasar mencermati sinyal-sinyal yang saling bertentangan mengenai kemungkinan tercapainya kesepakatan gencatan senjata. Selain itu, prospek pembukaan kembali Selat Hormuz juga menjadi perhatian utama.

Pada perdagangan Selasa, 2 Juni 2026, harga minyak Brent tercatat naik tipis. Kontrak berjangka minyak Brent menguat 6 sen atau 0,06 persen, mencapai US$95,04 per barel. Angka ini setara dengan sekitar Rp1,69 juta per barel dengan asumsi kurs Rp17.800 per dolar AS.

Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) asal Amerika Serikat mengalami sedikit penurunan. WTI turun 17 sen atau 0,18 persen, menjadi US$91,99 per barel. Nilai ini setara dengan sekitar Rp1,64 juta per barel.

Meskipun pergerakan harga pada hari itu relatif datar, kedua acuan harga minyak tersebut sebelumnya sempat mengalami lonjakan signifikan. Kenaikan lebih dari 5 persen dalam satu sesi perdagangan dipicu oleh kekhawatiran pasar mengenai pasokan minyak global di tengah ketegangan geopolitik yang masih berlangsung.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa ia tidak menerima informasi mengenai Iran yang menghentikan pembicaraan dengan Washington. Ia juga menyebutkan bahwa Israel telah memberikan persetujuan untuk penarikan pasukan yang sebelumnya disiagakan untuk serangan di Lebanon selatan.

Baca juga: 620 Warga dan 304 Bangunan Terkena Dampak Kebakaran di Belakang Pasar Jiung Kemayoran

Pernyataan Trump ini muncul setelah beredarnya laporan yang saling bertentangan terkait status negosiasi. Sebelumnya, pada hari Senin, Trump sempat menyatakan bahwa pembicaraan dengan Iran masih berlanjut. Namun, kantor berita Tasnim di Iran melaporkan bahwa Teheran telah menghentikan perundingan tidak langsung dengan Washington.

Dalam sebuah wawancara terpisah dengan CNBC, Trump menyampaikan bahwa ia tidak keberatan jika negosiasi tersebut berakhir. Namun, tidak lama kemudian, ia kembali menegaskan melalui media sosial bahwa pembicaraan masih terus berjalan.

Trump juga memberikan keterangan kepada ABC News, di mana ia memperkirakan akan tercapai sebuah kesepakatan untuk memperpanjang gencatan senjata. Kesepakatan ini juga diharapkan mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz dalam pekan berikutnya.

Saat ini, perhatian pasar tertuju pada apakah negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran akan menghasilkan kemajuan yang nyata atau justru dihadapkan pada hambatan baru. Para trader juga memantau dengan saksama setiap pernyataan dari kedua belah pihak. Komentar Iran mengenai Selat Hormuz dan aktivitas kapal tanker yang melintas di jalur tersebut menjadi sorotan utama.

Perkembangan lain yang patut dicatat datang dari Lebanon. Negara tersebut pada hari Senin mengumumkan adanya gencatan senjata parsial antara Hezbollah dan Israel. Langkah ini dinilai sebagai upaya terbatas untuk meredakan ketegangan yang telah menjadi bagian dari konflik yang lebih luas, yang melibatkan Iran.

Meskipun demikian, para analis berpendapat bahwa pemulihan aktivitas pelayaran melalui Selat Hormuz tidak akan terjadi secara instan. Bahkan jika kesepakatan gencatan senjata resmi berhasil dicapai, normalisasi lalu lintas kapal diperkirakan akan memakan waktu berbulan-bulan.

Proses pemulihan bisa berlangsung lebih lama lagi apabila terdapat kerusakan pada infrastruktur energi. Hal ini tentu akan berdampak lebih signifikan pada pasokan global.

Bulan lalu, Chief Executive Officer Saudi Aramco, Amin Nasser, telah memberikan peringatan. Ia menyatakan bahwa gangguan di Selat Hormuz berpotensi menunda stabilitas pasar minyak global hingga tahun 2027. Nasser menambahkan bahwa gangguan yang berkepanjangan dapat memengaruhi pasokan minyak mentah global hingga hampir 100 juta barel setiap pekannya.

Sementara itu, Morgan Stanley menggambarkan kondisi pasar minyak saat ini sebagai sebuah perlombaan melawan waktu. Lembaga keuangan ini memperingatkan bahwa faktor-faktor yang selama ini menahan kenaikan harga minyak lebih tinggi dapat mulai memudar. Hal ini terutama jika Selat Hormuz tetap ditutup sepanjang bulan Juni.

Menurut analisis Morgan Stanley, ekspor minyak mentah Amerika Serikat yang lebih tinggi serta melemahnya permintaan dari China telah membantu meredam sebagian dampak dari gangguan pasokan. Namun, perusahaan sekuritas tersebut mengingatkan bahwa penutupan berkepanjangan di Selat Hormuz dapat kembali memperketat pasokan global.

Kondisi ini akan terjadi apabila gangguan berlangsung lebih lama daripada kemampuan Amerika Serikat dan China untuk mengimbanginya. Ketidakseimbangan pasokan dan permintaan bisa kembali memicu kenaikan harga yang tajam.

Mengingat adanya berbagai ketidakpastian yang masih membayangi, arah harga minyak dunia dalam beberapa pekan ke depan akan sangat bergantung pada perkembangan diplomasi antara Amerika Serikat dan Iran. Selain itu, kondisi keamanan di salah satu jalur energi terpenting di dunia tersebut juga akan memainkan peran krusial.