Harga Minyak Dunia Diprediksi Tinggi oleh Morgan Stanley

oleh -6 Dilihat
Harga Minyak Dunia Diprediksi Tinggi oleh Morgan Stanley

KabarDermayu.com – Morgan Stanley, sebuah bank investasi global terkemuka, memprediksi bahwa pemulihan produksi minyak di kawasan Timur Tengah tidak akan terjadi dalam waktu singkat. Prediksi ini tetap relevan bahkan jika jalur pelayaran strategis Selat Hormuz dibuka kembali.

Dalam analisis terbarunya, Morgan Stanley memperkirakan bahwa produksi minyak di Timur Tengah baru akan pulih hingga 75 persen dari kapasitas sebelum konflik. Pemulihan ini diperkirakan memakan waktu sekitar empat bulan setelah Selat Hormuz kembali beroperasi secara normal.

Prediksi ini menjadi sorotan utama pasar global, mengingat peran krusial Selat Hormuz sebagai salah satu jalur perdagangan energi terpenting di dunia. Sekitar 20 persen dari total pasokan minyak mentah global biasanya melewati perairan yang berdekatan dengan Iran ini.

Saat ini, Selat Hormuz masih dianggap belum beroperasi sepenuhnya akibat konflik yang terus berlanjut. Situasi ini secara signifikan mengganggu distribusi minyak dari kawasan Timur Tengah, menimbulkan kekhawatiran pasar mengenai stabilitas pasokan energi global.

Baca juga: Penyebab Kebakaran Pasar Jiung Kemayoran Terungkap, Ketua RW Diperiksa Polisi

Morgan Stanley memproyeksikan bahwa perubahan signifikan dalam ekspor minyak melalui Selat Hormuz baru akan terlihat pada akhir Juli. Jika kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran berhasil dicapai, diperkirakan sekitar tiga perempat dari kapasitas produksi minyak yang hilang dapat kembali dalam empat bulan berikutnya.

Meskipun demikian, jalan menuju normalisasi pasar energi diprediksi masih panjang. Morgan Stanley mengidentifikasi sejumlah hambatan yang perlu diatasi sebelum produksi dan distribusi minyak dapat kembali berjalan seperti sedia kala sebelum konflik terjadi.

Beberapa tantangan tersebut meliputi operasi pembersihan ranjau di jalur pelayaran, penyelesaian antrean kapal tanker yang tertahan, kapasitas penyimpanan minyak yang terbatas, serta proses reaktivasi ladang-ladang minyak yang terdampak konflik. Faktor-faktor ini, sebagaimana dilaporkan oleh Tip Ranks pada Selasa, 2 Juni 2026, menjadi penentu dalam proses pemulihan.

Di sisi lain, prospek tercapainya perdamaian permanen antara Amerika Serikat dan Iran masih diselimuti ketidakpastian. Kedua negara dilaporkan masih terlibat dalam saling melancarkan serangan rudal, menunjukkan bahwa ketegangan geopolitik di kawasan tersebut belum menunjukkan tanda-tanda mereda.

Situasi geopolitik yang memanas ini turut mendorong harga minyak dunia kembali menguat. Pada perdagangan 1 Juni, harga minyak mentah tercatat mengalami kenaikan sekitar 3 persen, seiring dengan meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan dari Timur Tengah.

Kenaikan harga minyak ini juga menjadi perhatian utama para investor yang memantau pergerakan saham perusahaan-perusahaan energi besar. Sejumlah emiten minyak global, seperti Chevron, Shell, dan Occidental Petroleum, dilaporkan masih mendapatkan rekomendasi beli dari para analis pasar.

Morgan Stanley lebih lanjut menekankan bahwa proses pemulihan industri minyak tidak hanya bergantung pada pembukaan kembali Selat Hormuz. Faktor keamanan yang stabil, kesiapan infrastruktur yang memadai, serta kemampuan perusahaan energi untuk meningkatkan produksi secara efektif juga akan menjadi penentu utama.

Para analis berpendapat bahwa meskipun kesepakatan damai berhasil dicapai dalam waktu dekat, pasar energi global kemungkinan besar masih akan menghadapi periode transisi yang cukup panjang. Hal ini dikarenakan pasokan yang sempat terganggu tidak dapat serta-merta kembali ke level normal dalam hitungan hari atau minggu.

Bagi negara-negara pengimpor minyak, termasuk banyak negara di Asia, kondisi ini berpotensi mempertahankan harga energi pada level yang tinggi untuk beberapa waktu ke depan. Jika pemulihan produksi berjalan lebih lambat dari perkiraan, tekanan terhadap harga minyak dunia dapat berlanjut dan berdampak pada inflasi global.