Rudal Iran Mengudara, Harga Minyak Dunia Meroket

oleh -11 Dilihat
Rudal Iran Mengudara, Harga Minyak Dunia Meroket

KabarDermayu.com – Harga minyak dunia mengalami kenaikan lebih dari 1 persen pada perdagangan Rabu, 3 Juni 2026. Pemicu kenaikan ini adalah memanasnya kembali konflik di Timur Tengah, serta perkembangan negosiasi antara Iran dan Amerika Serikat yang dilaporkan belum menunjukkan kemajuan signifikan.

Kontrak minyak mentah Brent tercatat naik US$1,05 atau 1,09 persen, mencapai US$97,05 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) dari Amerika Serikat menguat US$1,01 atau 1,08 persen, ditutup pada US$94,77 per barel.

Kedua acuan harga minyak ini sebelumnya juga telah ditutup pada level tertinggi dalam sepekan. Kenaikan harga ini terjadi setelah militer Amerika Serikat mengumumkan bahwa Iran meluncurkan rudal balistik ke arah Kuwait dan Bahrain. Namun, rudal tersebut dilaporkan gagal mencapai target yang ditentukan.

Sebagai respons atas upaya serangan tersebut, pasukan Amerika Serikat kemudian melancarkan serangan balasan ke Pulau Qeshm di Iran. Perkembangan terbaru ini kembali memicu kekhawatiran pasar mengenai potensi gangguan pasokan energi dari kawasan Timur Tengah yang strategis.

Baca juga: Polisi: Mantan Istri Pembunuh WNA Korsel Ternyata Mantan Caleg

Pelaku pasar juga tengah menantikan kepastian mengenai kelanjutan pembahasan proposal kesepakatan antara Iran dan Amerika Serikat. Kesepakatan ini diharapkan dapat menghentikan eskalasi konflik yang terus berlangsung.

Media di Iran pada hari Selasa melaporkan bahwa Teheran tidak melakukan komunikasi dengan Washington dalam beberapa hari terakhir. Di sisi lain, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa proses negosiasi tetap berjalan secara berkelanjutan.

Analis senior komoditas dari ANZ Bank, Daniel Hynes, mengemukakan bahwa upaya untuk membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz masih menghadapi berbagai kendala. Hal ini disebabkan oleh Iran yang dilaporkan telah menempatkan ranjau di sebagian wilayah perairan tersebut.

“Ada sedikit peningkatan jumlah kapal yang mencoba melintas, tetapi total perjalanan masih jauh di bawah tingkat sebelum konflik,” ujar Hynes, sebagaimana dikutip dari Reuters, Rabu, 3 Juni 2026. Ia menambahkan bahwa situasi ini sangat memengaruhi kelancaran transportasi energi.

Selat Hormuz memiliki peran yang sangat vital dalam perdagangan energi global. Kawasan ini merupakan jalur utama ekspor minyak dari negara-negara Teluk yang kaya akan sumber daya. Gangguan terhadap aktivitas pelayaran di area ini berpotensi besar memengaruhi pasokan minyak dunia dan mendorong kenaikan harga lebih lanjut.

Konflik yang melibatkan Iran dengan Amerika Serikat dan Israel ini telah berlangsung selama lebih dari tiga bulan. Meskipun sempat terjadi gencatan senjata, situasi di lapangan hingga kini masih belum menunjukkan tanda-tanda penyelesaian yang jelas dan permanen.

Selain faktor geopolitik yang memanas, harga minyak juga mendapatkan dukungan dari adanya penurunan stok minyak mentah di Amerika Serikat. Berdasarkan data dari American Petroleum Institute (API) yang dikutip oleh sumber pasar, persediaan minyak mentah AS tercatat mengalami penurunan selama tujuh pekan berturut-turut.

Pada pekan yang berakhir pada 29 Mei 2026, stok minyak mentah di Amerika Serikat tercatat berkurang sekitar 6,8 juta barel. Penurunan persediaan ini mengindikasikan adanya pengetatan pasokan, yang menjadi salah satu faktor penopang kenaikan harga minyak saat ini.

Pasar kini menantikan rilis data resmi mengenai persediaan minyak dari pemerintah Amerika Serikat, yang dijadwalkan akan keluar pada hari Rabu waktu setempat. Data ini diharapkan dapat memberikan petunjuk baru mengenai kondisi pasokan dan permintaan minyak di pasar global.

Konflik yang terus berlanjut di Timur Tengah, serta perkembangan negosiasi antara Iran dan Amerika Serikat, diperkirakan akan tetap menjadi faktor utama yang memengaruhi pergerakan harga minyak dalam waktu dekat. Ketegangan geopolitik ini menjadi perhatian utama para pelaku pasar energi.