Relevansi Pemikiran Soekarno dalam Menghadapi Krisis Geopolitik dan Penegakan Hukum

oleh -6 Dilihat
Relevansi Pemikiran Soekarno dalam Menghadapi Krisis Geopolitik dan Penegakan Hukum

KabarDermayu.com – Anggota Komisi III DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, I Wayan Sudirta, menyatakan bahwa pemikiran Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno, masih sangat relevan untuk menjawab berbagai tantangan yang dihadapi bangsa Indonesia saat ini.

Tantangan tersebut meliputi gejolak geopolitik global, ketidakpastian ekonomi, serta persoalan penegakan hukum dan krisis etika publik.

Dalam rangka memperingati hari lahir Soekarno yang jatuh pada tanggal 6 Juni, Wayan Sudirta menyoroti bahwa Bung Karno tidak hanya meninggalkan warisan sejarah berupa Proklamasi Kemerdekaan.

Namun, ia juga mewariskan fondasi pemikiran yang tetap kokoh menjadi kompas bagi bangsa di tengah perubahan zaman yang pesat.

“Di tengah bangsa yang kini sedang diterpa badai geopolitik global, ketidakpastian ekonomi, dan ujian penegakan hukum, pemikiran Soekarno berdiri tegak sebagai mercusuar yang tak lekang oleh waktu,” ujar Wayan Sudirta pada Sabtu, 6 Juni 2026.

Ketua Umum Ikatan Alumni Doktor Hukum Universitas Kristen Indonesia (IKA Doktor Hukum UKI) ini menjelaskan lebih lanjut bahwa warisan intelektual Soekarno berakar pada tiga gagasan besar yang saling berkaitan.

Ketiga gagasan tersebut adalah Marhaenisme, Pancasila, dan Trisakti.

Menurut Wayan Sudirta, Marhaenisme lahir dari kepedulian mendalam Soekarno terhadap rakyat kecil.

Rakyat kecil ini terjebak dalam kemiskinan struktural akibat dampak kolonialisme dan sistem ekonomi yang dianggap tidak adil pada masanya.

Pemikiran Marhaenisme ini kemudian menjadi landasan utama perjuangan untuk mewujudkan keadilan sosial yang merata bagi seluruh lapisan masyarakat.

Sementara itu, Pancasila, yang digali dan diperkenalkan oleh Soekarno pada 1 Juni 1945, menjadi fondasi filosofis negara Indonesia.

Pancasila berfungsi sebagai perekat yang menyatukan nilai-nilai luhur bangsa, meliputi ketuhanan, kemanusiaan, nasionalisme, demokrasi, dan keadilan sosial.

“Pancasila adalah fondasi yang memastikan negara ini berdiri untuk semua golongan, bukan untuk satu kelompok tertentu,” tegasnya.

Lebih lanjut, Wayan Sudirta menilai bahwa Trisakti, yang diperkenalkan oleh Soekarno pada tahun 1964, merupakan strategi jitu untuk menjaga kedaulatan bangsa.

Trisakti ditopang oleh tiga pilar utama yang krusial: berdaulat dalam politik, berdikari dalam ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan.

Dalam konteks geopolitik global yang kompleks saat ini, Wayan Sudirta menekankan pentingnya Indonesia untuk tetap teguh mempertahankan prinsip politik luar negeri yang bebas aktif.

Indonesia harus menghindari posisi sebagai alat kepentingan negara-negara besar yang memiliki agenda tersendiri.

“Kepentingan nasional harus menjadi panglima dalam setiap perundingan internasional,” tegasnya.

Di sektor ekonomi, Wayan Sudirta menggarisbawahi urgensi mewujudkan kemandirian nasional.

Hal ini dapat dicapai melalui penguatan sektor industri dalam negeri dan pemerataan kesejahteraan masyarakat secara adil.

Menurut pandangannya, pembangunan ekonomi tidak seharusnya hanya berfokus pada angka pertumbuhan semata.

Pembangunan tersebut juga harus mampu memberikan manfaat nyata berupa keadilan ekonomi bagi rakyat kecil.

“Hilirisasi harus dikawal agar manfaatnya benar-benar dirasakan rakyat dan tidak hanya dinikmati segelintir kelompok,” ujarnya.

Sementara itu, dalam ranah hukum dan etika publik, Wayan Sudirta mengamati bahwa Indonesia tengah menghadapi tantangan serius.

Tantangan tersebut meliputi maraknya kasus korupsi, praktik penegakan hukum yang terkesan tebang pilih, serta menurunnya tingkat integritas di kalangan pejabat publik.

Oleh karena itu, ia mendorong agar nilai-nilai karakter bangsa yang telah diwariskan oleh Soekarno dapat dihidupkan kembali dalam setiap praktik penyelenggaraan negara.

“Kekuasaan adalah amanah, bukan alat memperkaya diri.

Penegak hukum dan pemimpin harus memiliki rasa malu dan dedikasi kepada republik,” tegasnya.

Wayan Sudirta juga mengingatkan bahwa memperingati hari lahir Bung Karno tidak sepatutnya hanya berhenti pada seremoni tahunan belaka.

Menurutnya, peringatan tersebut harus dijadikan momentum untuk membangkitkan kembali semangat keberanian, kemandirian, dan keberpihakan kepada rakyat.

Semangat inilah yang menjadi inti dari perjuangan Soekarno.

“Republik Indonesia membutuhkan generasi yang tidak hanya pandai mengutip kata-kata Soekarno, tetapi juga berani menerjemahkan Pancasila dan Trisakti dalam tindakan nyata,” katanya.

Ia menambahkan, berbagai tantangan ekonomi, geopolitik, dan penegakan hukum yang dihadapi Indonesia saat ini hanya dapat diatasi secara efektif apabila bangsa ini kembali memperkuat persatuan dan semangat gotong royong.

Semangat inilah yang senantiasa diajarkan oleh Bung Karno.

“Bersatu, bergotong royong, dan meyakini bahwa fajar yang baru akan selalu menyingsing bagi mereka yang terus berjuang,” pungkasnya.