KabarDermayu.com – Nama Freddy Budiman menjadi salah satu narapidana yang paling dikenal di Indonesia, terutama terkait kasus penyelundupan narkotika yang melibatkan dirinya.
Freddy Budiman dijatuhi hukuman mati dan dieksekusi pada 29 Juli 2016 di Lapas Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah. Vonis ini dijatuhkan setelah ia terbukti bersalah menyelundupkan sekitar 1,4 juta butir ekstasi dari China pada Mei 2012.
Brigjen Pol dr. Sumy Hastry Purwanti, Sp.F.M, yang menjabat sebagai Kepala Laboratorium Forensik Pusdokkes Polri sekaligus dokter forensik, membagikan pengalamannya saat bertugas dalam pelaksanaan eksekusi hukuman mati di Indonesia.
Ia mengaku salah satu eksekusi yang paling membekas dalam ingatannya adalah pelaksanaan hukuman mati terhadap Freddy Budiman bersama dua warga negara asing di Nusakambangan.
Dalam sebuah perbincangan di kanal YouTube Kick Andy Show, Andy F. Noya mengangkat topik mengenai metode hukuman mati yang umum diketahui di masyarakat Indonesia. Menurutnya, masyarakat lebih akrab dengan hukuman tembak, dibandingkan metode lain seperti kursi listrik, gantung, atau suntik mati.
“Tetapi yang kita kenal adalah hukuman tembak, kayak Kusni Kasdut jaman dulu, itu ditembak. Nah semua orang kalau bercerita tentang hukuman mati ditembak itu selalu membayangkan bahwa yang menembak ini supaya tidak merasa berdosa diisi peluru kosong.”
Andy F. Noya kemudian melanjutkan penjelasannya mengenai persepsi yang beredar di kalangan publik.
“Tetapi hanya satu katanya peluru yang betul-betul berisi, sehingga mereka tidak tahu siapa sebenarnya yang mengakhiri hidup dari terpidana.”
Ia kemudian meminta dr. Sumy Hastry untuk menceritakan pengalamannya saat bertugas dalam tim eksekusi.
Menanggapi pertanyaan tersebut, dr. Sumy Hastry menyatakan bahwa ia pernah mendapat tugas sebagai dokter dalam pelaksanaan hukuman mati ketika masih berdinas di Jawa Tengah.
“Saya pernah jadi tim eksekusi istilahnya, saya sebagai dokternya, karena saya dinas di Jawa Tengah jadi secara perintah untuk melakukan nih, kadang kan dokter nggak mau, dokter kan menolong, melihat kehidupan, kok ini melihat kematian.”
Meskipun dihadapkan pada dilema profesi sebagai dokter yang seharusnya menyelamatkan nyawa, ia tetap menjalankan tugas tersebut karena merupakan bagian dari kewajibannya sebagai anggota Polri.
Menurut dr. Sumy Hastry, sebelum proses eksekusi dilaksanakan, setiap terpidana wajib menjalani pemeriksaan kesehatan untuk memastikan kondisi fisik mereka.
Ia juga menjelaskan secara rinci bagaimana proses persiapan menjelang eksekusi berlangsung.
“Ketemu mereka, dan mereka dibawa dan memang kita biasa tengah malam, dan dikasih baju putih, diikat ke belakang tiang itu, sehingga datar dan saya sebagai tim dokternya memang menaruh atau titik tempel di titik yang benar-benar kena tembak langsung meninggal.”
Sebagai anggota tim pelaksana, dr. Sumy Hastry memiliki pemahaman mendalam mengenai prosedur operasi standar (SOP) yang diterapkan dalam pelaksanaan eksekusi mati.
“Jadi tidak lama menunggunya, ditembak langsung meninggal, karena kita tim jadi tahu kalau memang tim Brimob ya karena dari kepolisian, penembaknya-penembaknya ini senjatanya sudah ada di depan.”
Ia kemudian mengungkapkan sistem yang diterapkan dalam regu tembak.
“Di depan satu orang ini ada sembilan (penembak), dari sembilan ini ada tiga yang berisi peluru, tapi tidak tahu mana yang berisi.”
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa seluruh senjata laras panjang telah disiapkan sebelum regu penembak memasuki area eksekusi. Setelah menerima aba-aba dari komandan, setiap anggota mengambil senjata dan bersiap untuk menjalankan perintah.
Dengan sistem tersebut, satu terpidana akan menghadapi sembilan penembak, sementara hanya tiga senjata yang terisi peluru tajam. Identitas penembak yang menggunakan peluru mematikan juga tidak diketahui oleh seluruh anggota regu.
Andy F. Noya kembali menegaskan mekanisme regu tembak dalam pelaksanaan hukuman mati.
“Satu napi, sembilan penembak, sembilan senjata, di antara tiga berisi peluru yang mematikan,” jelas Andy F. Noya.
Menanggapi hal tersebut, dr. Sumy Hastry menjelaskan bahwa seluruh anggota regu tembak telah menjalani pelatihan khusus, sehingga mereka tetap menjalankan tugas tanpa mengetahui senjata mana yang berisi peluru tajam.
Menurutnya, begitu komandan regu memberikan aba-aba, seluruh proses eksekusi berlangsung dengan sangat cepat.
“Begitu diaba-aba komandan regu, siap, terus istilahnya komandan regunya ngasih tanda aba-aba, terus langsung lampu sorot naik, langsung tembak, karena kan gelap, makanya saya ngasih spotlight tertentu warnanya, begitu disorot lampu, langsung tembak.”
Ia menambahkan bahwa para penembak tidak memiliki kesempatan untuk memikirkan apakah senjata yang mereka pegang berisi peluru tajam atau tidak.
“Jadi sudah tidak tahu, saya pikir anggota pun sudah tidak pikir bisa merasakan ini senjata ada (peluru) atau tidak.”





