BI Batasi Valas US$25 Ribu, Rupiah Menguat Hari Ini

oleh -7 Dilihat
BI Batasi Valas US$25 Ribu, Rupiah Menguat Hari Ini

KabarDermayu.com – Nilai tukar rupiah berhasil menguat di awal Juni 2026 setelah mengalami tekanan dalam beberapa hari terakhir. Penguatan ini terjadi bertepatan dengan kebijakan baru Bank Indonesia (BI) yang membatasi pembelian valuta asing (valas) tanpa dokumen pendukung menjadi maksimal US$25 ribu per bulan mulai hari ini.

Pada penutupan perdagangan Selasa, 2 Juni 2026, rupiah tercatat menguat 0,20 persen terhadap dolar Amerika Serikat (AS), ditutup pada level Rp17.830 per dolar AS. Penguatan ini mengakhiri tren pelemahan yang berlangsung selama lima hari perdagangan sebelumnya.

Selama perdagangan, pergerakan rupiah menunjukkan volatilitas. Mata uang Garuda sempat dibuka menguat di Rp17.850 per dolar AS, kemudian melemah hingga menyentuh Rp17.892 per dolar AS sebelum akhirnya kembali menguat menjelang penutupan pasar.

Di sisi lain, indeks dolar AS (DXY) yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia mengalami pelemahan 0,12 persen ke posisi 99,081 pada pukul 15.00 WIB. Pelemahan dolar global ini memberikan ruang bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, untuk menguat.

Penguatan rupiah ini turut dipengaruhi oleh langkah Bank Indonesia dalam mengkalibrasi kebijakan pasar valuta asing guna menjaga stabilitas nilai tukar.

Melalui Peraturan Anggota Dewan Gubernur Nomor 7 Tahun 2026, BI secara resmi memperketat batas pembelian dolar AS tanpa dokumen pendukung. Sebelumnya, batas transaksi ini telah diturunkan dari US$100 ribu menjadi US$50 ribu pada April 2026.

Kini, mulai awal Juni 2026, batas tersebut kembali dipersempit menjadi maksimal US$25 ribu per pelaku dalam satu bulan.

Kebijakan pembatasan ini bertujuan untuk memperkuat pengawasan transaksi valas tunai dan menjaga stabilitas pasar keuangan domestik di tengah tingginya ketidakpastian global.

Meskipun transaksi tunai diperketat, BI tetap memberikan relaksasi pada pasar derivatif. Untuk transaksi forward jual dan swap, batas transaksi tanpa dokumen pendukung justru dinaikkan menjadi US$10 juta per transaksi.

Selain itu, pelaku pasar terus didorong untuk memanfaatkan skema Local Currency Transaction (LCT) dalam perdagangan bilateral. Hingga April 2026, volume transaksi LCT tercatat telah mencapai US$22,61 miliar.

Di tengah penguatan rupiah, data perdagangan Indonesia menunjukkan adanya perlambatan surplus neraca perdagangan.

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa surplus perdagangan Indonesia pada April 2026 hanya mencapai US$90 juta. Angka ini mengalami penurunan tajam dibandingkan dengan surplus pada Maret 2026 yang tercatat sebesar US$3,32 miliar.

Penyusutan surplus ini terjadi bersamaan dengan lonjakan impor nasional. Nilai impor Indonesia tercatat naik sebesar 22,49 persen menjadi US$25,21 miliar pada April 2026.

Sementara itu, nilai ekspor masih tetap lebih tinggi, mencapai US$25,30 miliar, dengan pertumbuhan sebesar 21,98 persen secara tahunan.

Meskipun surplus menurun, Indonesia masih mencatat tren surplus perdagangan yang berkelanjutan. Secara kumulatif, dari Januari hingga April 2026, surplus neraca perdagangan tercatat sebesar US$5,64 miliar.

Baca juga: Tembakan Terukur ke Begal, Sahroni: Bentuk Perlindungan HAM Warga

Kinerja ekspor nonmigas, khususnya dari sektor industri pengolahan, tetap menjadi penopang utama surplus perdagangan nasional.

Dari sisi domestik, pasar juga mencermati data inflasi dan aktivitas manufaktur nasional.

BPS melaporkan inflasi tahunan Indonesia pada Mei 2026 mencapai 3,08 persen secara year-on-year (yoy). Secara bulanan, inflasi tercatat sebesar 0,28 persen, sementara inflasi tahun kalender mencapai 1,35 persen.

Indeks Harga Konsumen (IHK) mengalami peningkatan dari 111,09 pada April menjadi 111,40 pada Mei 2026.

Di sisi lain, sektor manufaktur Indonesia kembali menunjukkan tanda-tanda ekspansi. Berdasarkan laporan S&P Global, Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Indonesia naik ke level 50,0 pada Mei 2026, setelah sebelumnya berada di level 49,1 pada April.

Kenaikan PMI ini didorong oleh peningkatan permintaan domestik dan pertumbuhan pesanan baru yang terjadi selama dua bulan berturut-turut. Meskipun demikian, industri masih menghadapi tantangan berupa kenaikan biaya bahan baku dan gangguan pada rantai pasok.

Dari faktor eksternal, sentimen geopolitik global masih menjadi perhatian utama para pelaku pasar.

Pengamat pasar uang, Ibrahim Assuaibi, menyatakan bahwa ketidakpastian global masih dipengaruhi oleh perkembangan konflik di Timur Tengah dan kebijakan perdagangan Amerika Serikat.

Presiden AS Donald Trump dilaporkan masih melanjutkan pembicaraan dengan Iran terkait upaya perpanjangan gencatan senjata dan pembukaan kembali Selat Hormuz.

Di sisi lain, Lebanon juga mengumumkan adanya gencatan senjata parsial antara Hizbullah dan Israel, yang dinilai sebagai deeskalasi terbatas terhadap konflik di kawasan tersebut.

Ketegangan geopolitik ini sebelumnya telah memicu gangguan pada distribusi energi global dan mendorong kenaikan harga minyak dunia.

Selain itu, pemerintah AS juga melakukan perubahan kebijakan tarif impor untuk sejumlah komoditas industri, seperti tembaga, aluminium, dan besi.

Gedung Putih menyatakan bahwa kebijakan tarif baru ini akan berlaku hingga 31 Desember 2027, dengan tujuan untuk mendorong investasi industri dalam negeri AS.

Ibrahim Assuaibi memproyeksikan bahwa pergerakan rupiah dalam waktu dekat masih akan cenderung fluktuatif, bergerak di kisaran Rp17.840 hingga Rp17.900 per dolar AS.