Trump dan Iran Melunak, Potensi Kesepakatan Damai Muncul

oleh -5 Dilihat
Trump dan Iran Melunak, Potensi Kesepakatan Damai Muncul

KabarDermayu.com – Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat yang telah berlangsung selama tiga bulan dan mengguncang Timur Tengah serta ekonomi global, kini mulai menunjukkan tanda-tanda mereda. Di tengah ancaman perang terbuka dan kenaikan harga minyak, kedua negara secara perlahan membuka jalur kompromi.

Sebuah negosiasi rahasia terungkap di Doha, Qatar. Sejumlah pejabat tinggi Iran, termasuk Menteri Luar Negeri dan negosiator utama mereka, telah mengadakan pertemuan penting dengan Perdana Menteri Qatar. Agenda utama pertemuan ini adalah menjajaki kemungkinan kesepakatan damai dengan Washington, yang mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz dan pembahasan mengenai stok uranium yang diperkaya tinggi milik Iran.

Selat Hormuz memiliki peran krusial dalam negosiasi ini. Jalur perairan ini dilalui oleh hampir 20 persen distribusi minyak dunia. Sejak konflik memanas pada bulan Februari lalu, gangguan pelayaran di kawasan tersebut secara langsung menyebabkan lonjakan harga energi global.

Sinyal pelunakan juga datang dari Washington. Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, menegaskan bahwa Amerika Serikat masih membuka pintu lebar untuk diplomasi sebelum mengambil langkah militer lebih lanjut terhadap Tehran.

“Ada proposal yang cukup solid terkait pembukaan kembali selat, negosiasi nyata soal nuklir, dan kami berharap ini bisa berhasil,” ujar Menlu AS, Rubio, seperti dikutip dari Reuters.

Baca juga: Pengetahuan Olahraga: Dokter Tim Olimpiade Ingin Semua Nikmati

Presiden AS, Donald Trump, juga menunjukkan sikap yang lebih lunak. Melalui unggahan panjang di Truth Social, Trump menyatakan bahwa pembicaraan dengan Iran berjalan cukup baik, meskipun ia tetap menyematkan peringatan keras jika negosiasi mengalami kebuntuan.

“Kesepakatan ini hanya akan menjadi kesepakatan besar bagi semua pihak, atau tidak ada kesepakatan sama sekali,” tulis Trump.

Di sisi lain, Tehran memandang proses menuju perdamaian ini belum sepenuhnya aman. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, mengakui bahwa sejumlah isu telah menemukan titik temu. Namun, ia menampik anggapan bahwa kesepakatan final sudah berada di depan mata.

“Kami telah mencapai kesimpulan pada banyak topik, tetapi itu bukan berarti kami sudah dekat dengan penandatanganan perjanjian,” kata Baghaei.

Saat ini, nota kesepahaman yang sedang dirumuskan memuat 14 poin utama. Prioritas awal adalah penghentian permusuhan dan pengakhiran blokade laut yang diberlakukan AS di Selat Hormuz. Sebagai imbalannya, Iran diminta untuk memberikan jaminan keamanan bagi jalur pelayaran internasional di perairan tersebut.

Pembahasan program nuklir sengaja tidak menjadi fokus di tahap awal. Iran bersikeras bahwa isu tersebut baru akan dibahas dalam masa negosiasi lanjutan selama 60 hari, apabila kerangka dasar kesepakatan berhasil disepakati.

Meskipun suhu diplomasi mulai menghangat, bayang-bayang konflik militer belum sepenuhnya sirna. Iran baru saja mengklaim berhasil menembak jatuh drone siluman “musuh” menggunakan sistem pertahanan udara terbaru mereka, tanpa merinci asal drone tersebut.

Namun, pasar global lebih dulu merespons positif. Harga minyak dunia terkoreksi lebih dari 4 persen seiring membaiknya sentimen investor terhadap kemungkinan tercapainya kesepakatan antara Washington dan Tehran.

Jalan menuju perdamaian masih menghadapi tantangan berat. Iran terus menuntut pencabutan sanksi ekonomi dan pencairan dana minyak mereka yang dibekukan di luar negeri. Sementara itu, AS terus menekan Tehran agar menghentikan ambisi nuklirnya.

Tekanan juga mengalir dari dalam negeri AS. Lonjakan harga energi akibat konflik dikabarkan mengganggu popularitas Trump, sementara Kongres AS mulai mendorong pembatasan kewenangan perang presiden.