Respons Seskab Teddy atas Dino Patti Djalal: Masukan Diterima, Jangan Kaburkan Fakta Keberhasilan

oleh -9 Dilihat
Respons Seskab Teddy atas Dino Patti Djalal: Masukan Diterima, Jangan Kaburkan Fakta Keberhasilan

KabarDermayu.com – Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya menyatakan bahwa pemerintah terbuka terhadap segala masukan dan kritik. Namun, ia menekankan pentingnya agar kritik yang disampaikan tidak sampai mengaburkan fakta mengenai berbagai capaian yang telah diraih dari lawatan luar negeri Presiden Prabowo Subianto.

“Ruang untuk setiap masukan tentu kita terima, tetapi jangan sampai kita mengaburkan fakta tentang semua hasil yang telah kita capai,” ujar Seskab Teddy dalam tayangan resmi Sekretariat Kabinet di Jakarta, Senin.

Penegasan ini disampaikan sebagai respons terhadap sejumlah kritik yang dilayangkan oleh Mantan Wakil Menteri Luar Negeri RI sekaligus pendiri Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI), Dino Patti Djalal. Kritik tersebut berkaitan dengan agenda lawatan luar negeri Presiden Prabowo selama periode 1,5 tahun terakhir.

Tayangan berdurasi lebih dari enam menit itu memuat setidaknya delapan poin jawaban dan klarifikasi atas kritik serta pernyataan yang disampaikan Dino Patti Djalal melalui media sosial pribadinya mengenai agenda lawatan luar negeri Presiden Prabowo.

Seskab Teddy memulai jawabannya dengan menyampaikan rasa terima kasih atas masukan dan kritik yang telah diberikan oleh Dino.

“Terima kasih atas masukan yang telah diberikan, sangat cermat dan terstruktur. Saya pikir Beliau (Dino Patti Djalal) adalah diplomat hebat, pernah menjadi wakil menteri luar negeri, walau hanya diberi kesempatan sekitar tiga bulan,” ungkap Teddy.

Selanjutnya, Teddy menjawab kritik-kritik Dino secara runut. Poin pertama yang dibahas adalah mengenai biaya perjalanan lawatan luar negeri Presiden yang dikritik Dino sebagai “sangat besar”.

“Segala kelebihan biaya yang telah dianggarkan oleh negara, itu sepenuhnya ditanggung oleh pribadi Presiden Prabowo,” tegas Teddy.

Baca juga: Nasib Yuan Berbalik: Data Terbaru China Bikin Pasar Was-was

Seskab Teddy kemudian melanjutkan dengan menjawab kritik terkait jumlah rombongan kepresidenan yang turut serta dalam perjalanan luar negeri Presiden Prabowo.

Teddy menunjukkan bahwa jika dibandingkan dengan para pendahulunya, Presiden Prabowo telah melakukan pemangkasan jumlah rombongan yang dilibatkan dalam setiap agenda luar negeri Kepala Negara.

“Jumlah rombongan Presiden Prabowo itu sudah berkurang besar-besaran. Lebih dari separuh dari periode sebelumnya. Jadi, kalau dulu, itu sekali ke luar negeri bisa lebih dari 120 orang. Zaman Pak Dino seperti itu, Nah, jaman Presiden Prabowo, jumlahnya antara 50 sampai 60 orang maksimal,” jelas Teddy.

Terkait jadwal lawatan luar negeri Presiden, Dino sebelumnya menyarankan agar lawatan tersebut dipetakan setidaknya setahun sebelumnya.

Dino juga memberikan saran agar Seskab Teddy dan Menteri Luar Negeri Sugiono mengumumkan rencana lawatan luar negeri Presiden sebulan sebelum keberangkatan, atau minimal seminggu sebelum keberangkatan.

Seskab Teddy menjelaskan bahwa jadwal lawatan luar negeri Presiden terbagi atas jadwal tahunan dan jadwal yang sifatnya mendesak, yang mengikuti perkembangan dunia global yang sangat dinamis.

“Perkembangan dunia global itu sangat dinamis, hari per hari. Jadi, ada jadwal tahunan, dan ada jadwal yang mendesak sesuai kebutuhan dalam negeri dan luar negeri suatu negara,” papar Seskab Teddy.

Kedekatan Personal

Teddy kemudian memberikan contoh jadwal tahunan, seperti agenda KTT ASEAN, KTT G20, KTT APEC, KTT BRICS, dan Sidang Majelis Umum PBB.

Sementara itu, jadwal mendesak berkaitan dengan dinamika global, termasuk konflik di beberapa negara, krisis di Timur Tengah, dan perkembangan situasi di Palestina.

Jawaban berikutnya dari Seskab Teddy menanggapi kritik Dino yang menyoroti frekuensi atau banyaknya jumlah lawatan luar negeri Presiden Prabowo serta hal-hal terkait protokolernya.

“Presiden Prabowo adalah presiden baru yang mulai menjabat saat dunia sedang krisis, sebelumnya ada konflik di Ukraina, Venezuela, kemudian sekarang ada di Iran dan Timur Tengah. Itu terlibat (Arab) Saudi, Qatar, Bahrain, UAE, dan lain sebagainya,” katanya.

Oleh karena itu, lanjutnya, setiap pemimpin negara tentunya harus membangun hubungan dekat antarpemimpin dunia, dan tidak bisa hanya mengandalkan saat krisis baru meminta bantuan.

“Tidak. Kita harus panen hubungan yang baik, lalu bila suatu saat ada kondisi mendesak, kita bisa minta bantuan, dan begitu pula sebaliknya,” ujar Teddy.

Teddy melanjutkan bahwa gaya diplomasi yang dijalankan oleh Presiden Prabowo adalah dengan memanfaatkan “kedekatan personal”.

“Perlu kedekatan pribadi, kedekatan emosional antarpemimpin, baik secara langsung, diliput media, ataupun tertutup. Nah, itulah diplomasi. Jadi, salah besar kalau dibilang hanya gagah-gagahan, seremonial. Jadi, kita harus lihat apa yang sudah dicapai dalam 1,5 tahun terakhir ini,” pungkas Teddy.