KabarDermayu.com – Presiden kedua Republik Indonesia, Soeharto, memiliki metode unik dalam menyeleksi pejabat yang akan menduduki posisi strategis di pemerintahannya.
Pendekatan ini tidak hanya terbatas pada kemampuan teknis atau latar belakang pendidikan semata, namun juga mempertimbangkan aspek personal yang lebih mendalam.
Dalam rangka peringatan 105 tahun kelahiran Soeharto, wartawan senior Bambang Wiwoho, yang juga penulis buku “Laku Spiritual Pak Harto, Indonesia dan Kejawen,” membagikan pandangannya mengenai cara Soeharto memilih para menteri dan pejabat.
Bambang mengungkapkan bahwa Soeharto selalu memiliki daftar nama tokoh dari berbagai daerah yang dianggap potensial untuk direkrut sewaktu-waktu.
“Saat masih seger-segernya, Pak Harto selalu memiliki dokumen seperti daftar belanja. Yaitu suatu daftar orang pusat dan daerah yang sewaktu-waktu bisa direkrut,” ujar Bambang di Jakarta pada Senin, 8 Juni 2026.
Ia menambahkan, “Saat itu, beliau masih sangat intens membaca dan mengenal banyak orang, tokoh tahun 70 dan 80.”
Namun, masuk dalam daftar tersebut tidak serta merta menjamin seseorang akan langsung mendapatkan jabatan.
Bambang menjelaskan bahwa setiap nama yang dipertimbangkan akan melalui proses penelitian yang sangat mendalam oleh tim khusus yang ditunjuk oleh Soeharto.
Proses penelusuran ini bahkan mencakup aspek-aspek yang jarang menjadi perhatian dalam seleksi pejabat pada umumnya.
“Lebih detil itu terkait kepribadiannya, hobinya, saudaranya, saudara sedulur, sekasur, sesumur istilahnya ya,” ungkap Bambang.
Ia melanjutkan, “Lalu, bagaimana rasa setia kawannya. Lalu kehidupan rumah tangga dan cara bergaulnya.”
Menurut Bambang, Soeharto meyakini bahwa karakter seseorang dapat terlihat jelas dari kehidupan sehari-hari.
Hal ini termasuk cara mereka bergaul dan memperlakukan orang-orang di sekitar mereka.
Oleh karena itu, aspek seperti loyalitas, hubungan sosial, dan kehidupan keluarga menjadi pertimbangan penting dalam proses penilaian.
Bambang, yang merupakan wartawan senior yang lama meliput aktivitas kepresidenan, berpendapat bahwa kemampuan seseorang dalam mengelola urusan pribadi merupakan salah satu indikator kelayakan untuk mengemban tanggung jawab yang lebih besar.
“Begitu juga dengan kehidupan rumah tangga. Bagaimana seseorang bisa diberi kepercayaan mengelola salah satu aspek negara, jika rumah tangganya, yang skup-nya lebih kecil, berantakan,” tegas Bambang.
Pendekatan unik ini, menurut Bambang, menjadi salah satu strategi yang diterapkan Soeharto dalam membangun kabinet dan menempatkan pejabat selama masa pemerintahannya.





