Harga Minyak Dunia: AS vs Iran, Investor Pantau Drama Pekan Ini

oleh -10 Dilihat
Harga Minyak Dunia: AS vs Iran, Investor Pantau Drama Pekan Ini

KabarDermayu.com – Harga minyak dunia mengalami pelemahan signifikan pada pekan ini. Penurunan ini terjadi seiring dengan optimisme pasar mengenai potensi perpanjangan kesepakatan gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran.

Meskipun penurunan dalam satu sesi perdagangan tidak terlalu dalam, koreksi mingguan harga minyak tercatat cukup tajam. Hal ini disebabkan oleh meredanya kekhawatiran akan terganggunya pasokan global.

Pelaku pasar saat ini terus mencermati perkembangan negosiasi antara Washington dan Teheran. Harapan akan tercapainya kesepakatan baru memberikan tekanan lebih besar pada harga minyak, meskipun ketidakpastian geopolitik tetap menjaga volatilitas pasar energi tetap tinggi.

Kontrak minyak mentah Brent untuk pengiriman Juli, yang akan berakhir pada perdagangan Jumat, 29 Mei 2026, turun 35 sen atau 0,37 persen menjadi US$93,36 per barel. Nilai ini setara dengan Rp1,66 juta per barel.

Sementara itu, minyak mentah Amerika Serikat, atau West Texas Intermediate (WTI), juga mengalami penurunan. WTI turun 63 sen atau 0,71 persen, mencapai US$88,27 per barel atau sekitar Rp1,57 juta.

Di sisi lain, kontrak Brent untuk pengiriman Agustus, yang lebih aktif diperdagangkan, juga terkoreksi. Penurunan mencapai 46 sen atau 0,50 persen, dengan harga berada di level US$92,24 per barel atau sekitar Rp1,64 juta.

Meskipun penurunan harian relatif terbatas, harga minyak secara keseluruhan tercatat mengalami pelemahan mingguan lebih dari 8 persen. Pekan lalu, harga Brent sempat melonjak hingga menyentuh US$109,47 atau sekitar Rp1,94 juta per barel.

Namun, harga tersebut kemudian jatuh ke titik terendah mingguan di level US$87,11 atau sekitar Rp1,55 juta. Fluktuasi ekstrem ini menunjukkan sensitivitas pasar energi global terhadap perkembangan geopolitik di Timur Tengah.

Dalam beberapa sesi perdagangan terakhir, harga minyak Brent dan WTI bahkan sempat bergerak liar dengan perubahan hingga US$6 per barel. Perubahan harga yang drastis ini disebabkan oleh laporan yang saling bertentangan mengenai kemungkinan berakhirnya konflik tiga bulan yang melibatkan Iran.

Fokus pasar kini tertuju pada Selat Hormuz. Jalur pelayaran strategis ini merupakan jalur distribusi bagi hampir seperlima pasokan minyak dan gas alam cair dunia. Aktivitas pengiriman melalui kawasan tersebut memang masih jauh di bawah level normal sebelum konflik terjadi.

Namun, laporan mengenai kemungkinan pelonggaran pembatasan jalur pelayaran memberikan sedikit ketenangan bagi pasar energi global. Berdasarkan sejumlah laporan, Amerika Serikat dan Iran telah mencapai kesepakatan awal pada Kamis untuk memperpanjang gencatan senjata.

Baca juga: Sekjen Kemendagri Dorong Percepatan Administrasi K/L untuk Pencairan Anggaran Pascabencana

Kesepakatan awal ini juga mencakup pembukaan kembali akses pelayaran di Selat Hormuz. Hal ini menjadi sinyal positif bagi kelancaran pasokan energi global.

Meski begitu, kesepakatan tersebut masih menunggu persetujuan resmi dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Di saat bersamaan, media pemerintah Iran menyebutkan bahwa pembicaraan antara kedua negara masih terus berlangsung.

Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance memberikan sinyal positif terkait perkembangan negosiasi tersebut. Ia mengatakan bahwa pembicaraan berjalan ke arah yang baik, meskipun masih ada sejumlah isu penting yang belum terselesaikan.

Vance menegaskan bahwa kedua negara ini sudah dekat untuk mencapai kesepakatan. Namun, ia menekankan bahwa proses negosiasi belum sepenuhnya rampung dan masih memerlukan penyelesaian lebih lanjut.

Ia menjelaskan, salah satu hambatan utama dalam pembahasan adalah stok uranium yang telah diperkaya milik Iran. Aktivitas pengayaan uranium tersebut masih menjadi perhatian serius bagi Washington.

Vance juga menegaskan bahwa Amerika Serikat masih memiliki kemampuan untuk melemahkan program nuklir Teheran apabila diperlukan. Hal ini menunjukkan kesiapan AS untuk mengambil tindakan jika negosiasi tidak membuahkan hasil yang diharapkan.

“Saya tidak bisa menjamin kami akan sampai ke tahap itu, tetapi saat ini saya merasa cukup optimistis,” katanya, sebagaimana dikutip dari AngelOne, Jumat.

Perkembangan negosiasi AS-Iran diperkirakan akan terus menjadi penentu utama arah harga minyak dunia dalam waktu dekat. Jika kesepakatan resmi tercapai dan jalur distribusi energi kembali normal, tekanan terhadap harga minyak berpotensi berlanjut.

Namun di sisi lain, pasar tetap mewaspadai kemungkinan munculnya ketegangan baru yang dapat kembali mengganggu pasokan energi global. Kondisi ini membuat harga minyak diperkirakan masih bergerak fluktuatif dalam beberapa pekan mendatang.